Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2012

"Ada ga ya, Aleg partai lain yang begini?"

by Ratih Kartiningsih

Yang kami tau, Ustadz S, anggota DPRD Kota Tangerang dari PKS beliau ‘punya’ dua mobil. Satu mobil pribadi dan satu mobil dinas. Beliau lebih sering menggunakan mobil pribadi untuk mobilisasi. Sedangkan mobil dinas beliau dedikasikan untuk dipinjam masyarakat, karena menurut beliau "itu mobil rakyat, biar dipake rakyat juga".

Beberapa hari yang lalu, Abu Fatih telpon sang Ustadz, minta izin pinjam mobil untuk menjemput putri kami di pesantren hari Rabu tanggal 8. Ustadz S mempersilahkan.

Maka, Rabu pagi, meluncurlah Abu Fatih ke rumah sang Ustadz untuk mengambil mobil. Sesampainya di rumah beliau, ternyata ga ada mobil. Mobil pribadi maupun mobil dinasnya ga ada. Kata Umi nya, "Ustadz ke kantor bawa mobil dinas. Pa Fadil ambil aja mobil dinas di kantor. Motor Pa Fadil taruh di sini, Pa Fadil ke kantor pake motor saya. Biar nanti Ustadz pulangnya pake motor".

Masalahnya....... kami tau bahwa putri beliau pun harus dijemput di pesantren, karena putri beliau satu kelas di pesantren dengan putri kami. Maka terlontar pertanyaan dari Abu fatih kepada Istri sang Ustadz "Lha, terus Hana (putri beliau) bagaimana?". Dengan santai istri sang Ustadz menjawab, "Hana nanti saya yang jemput pake motor."

Subhanalloh. Jadi, yang punya mobil njemput putrinya pake motor, karena mobilnya dipinjam oleh orang yang mau njemput putrinya juga, di pesantren yang sama???

“Itu kan mobil rakyat” benar-benar sudah melekat pada aleg dan keluarga aleg ini.

ALLOHU AKBAR!!


*sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290435904397186&set=a.137355103038601.29452.100002923374352&type=1&theater


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

"Tiga Persiapan Penting Mencapai Cita-cita Dakwah" | Taujih Ust Cholid Mahmud






Ir. H. Cholid Mahmud
Ketua Umum Jama'ah Shalahuddin UGM (1989-1990)
Anggota DPD RI dari DI Yogyakarta (2009-2014)



Taujih ustadz Cholid Mahmud ini kami kutip dari kultwit Ridwan Oktovan @tovan_hnd

  1. Saya share taujih ust Cholid Mahmud kpd ADK bbrpa waktu yg lalu. Smg manfaat Hastag kultwitny #TaujihUCM.

  2. Qta sbg kader dakwah punya narasi dan cita2 besar terkait ke-ummat-an. Bagian dari perintah Allah swt.

  3. Dalam rangka mencapai narasi besar maka dibutuhkan i'dad atau persiapan.

  4. I'dad pertama adalah Kredibilitas Personal, ini terangkum dlm 10 muwashofat. Tweeps fillah masih ingatkan 10 muwashofat?

  5. ADK seharusny memanfaatkn sebaik2nya waktu di kampus utk memenuhi 10 muwashofat ini, shg jadilah ia kader dakwah yg punya krediblitas personal. 

  6. I'dad kedua adlh Kapasitas Berorganisasi, hal ini dimatangkan ketika kuliah (di kampus). Belajarlah berorganisasi yg baik.

  7. Kapasitas berorganisasi dlm dakwah qta prinsip & ruhny ada dlm arkanul baiat Imam Hasan Al-Banna. Dari al-fahmu sampai tsiqoh.

  8. Belajarlah memimpin, belajarlah melayani publik, belajarlah mengorganisir, belajarlah mengelola urusan2 org lain selama mjd Aktivis di Kampus.

  9. Persiapan ketiga adalah Kredibilitas Profesional, point ke 3 ini merupakan tantangan pasca kampus.

  10. Kompetensi ilmu perkuliahan yg didapatkan saat kuliah kan mnjadi penunjang kredibiltas profesional.

  11. Munculny kredibilits profesi adalah sebuah jawaban dari problem ummat. Jika sudah kredibel, maka amanah2 ummat itu kan dipercayakan kpd kader dakwh.

  12. Nah, 3 point ini belumlah dimiliki para pengurus negara qta tercinta. Contohnya bbrpa menteri blum lah sesuai dg kompetensi ilmunya.

  13. Blum lagi jika qta liat kredibilitas personal sebagian org2 publik yg masih jauh dari baik.

  14. Lalu, dimana qta bisa ambil contoh? Seksamai bgmn pemimpin negara mesir saat ini. Mohammad Mursi.

  15. Pada awalnya parpol pengusungnya bukanlah mengusulkan Mursi sbg capres, namun krn calon awalnya ada "masalah" dgn status hukumnya..

  16. ..maka saat injury time dimintalah Mursi menjadi capres, nah, bliau gak ada masalah krn 3 i'dad tadi sudah dilakukannya dgn baik.

  17. Mursi adalah kader dakwah yg mulai dari masa mudanya menempa diri dgn 3 persiapan tadi. Wajib qta contoh.

  18. Persiapan ini tidak hanya terkait dgn jabatan publik, tapi lebih pada PERAN PUBLIK yg dilakukan kader dakwah. Jabatan publik hanya bagian kecil dari peran publik yg ada.

  19. Kader dakwah adalah arus utama menyelesaikan problem ummat. Jadilah yg terbaik dlm peran2 publik/ keummatn.

  20. Demikian tuips yg bisa sy share, smg manfaat dan bersiap siagalah.



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Mesir, Demokrasi Minus Kematangan | Dr Ibnu Burdah

Dr Ibnu Burdah MA*
Pemerhati masalah Timur Tengah dan dunia Islam
Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  

SEPERTI diduga, suara na'am (ya) yang berarti setuju terhadap rancangan konstitusi baru memperoleh  kemenangan signifikan dalam referendum putaran kedua di Mesir. Kendati masih penghitungan sementara (ketika tulisan ini dibuat, sekarang sudah hasil resmi KPU -ed), hasil akhir  itu hampir bisa dipastikan dimenangi oleh suara "ya", bahkan di beberapa wilayah kemenangan itu mencapai angka di atas 80%.

Para analis mengaitkan kemenangan itu sebagai kehendak kuat rakyat Mesir untuk segera mewujudkan Mesir baru yang stabil. Kampanye Ikhwan selama ini memang mengusung tema stabilitas untuk memperoleh dukungan terhadap rancangan konstitusi itu. Penjelasan itu beralasan mengingat setelah kejatuhan Hosni Mubarak, Mesir terus dirundung instabilitas pada tingkat yang mengkhawatirkan, baik keamanan, politik, ekonomi, maupun sosial.

Hasil referendum itu mengisyaratkan pesan rakyat Mesir yang begitu jelas, bahwa keadaan tidak stabil itu harus segera diakhiri. Namun apakah kemenangan itu akan menjamin bagi keterbebasan Mesir dari karut-marut keamanan dan kegaduhan politik secara berlebihan sebagaimana berlangsung dua tahun terakhir ini?

Mesir dikenal sebagai gudang sekaligus pabrik sumber daya manusia berkualitas di Timur Tengah. Hasil-hasil pemikiran para intelektual, racikan ideologi para pemimpin gerakan, karya para sastrawan serta hasil kebudayaan negara ini tersebar dan berpengaruh luas ke berbagai negara Arab. Implikasi sederhana bagi kenyataan ini misalnya, dialek Arab Mesir dipahami hampir oleh seluruh lapisan penduduk Arab hingga wilayah barat, seperti Maroko.

Hal ini disebabkan penetrasi film-film Mesir dan karya sastra mereka ke berbagai negara Arab dalam tingkat sangat tinggi. Hal  itu tidak terjadi pada kebanyakan dialek-dialek Arab yang lain, bahkan negara-negara yang memiliki kemampuan finansial sangat besar dan memiliki perusahaan multinasional di bidang yang strategis. Itu semua adalah keunggulan Mesir yang terus terpelihara dalam waktu yang sangat lama.

Semua modal itu sebenarnya membuat Mesir memiliki potensi untuk mewujudkan semua cita-cita revolusi, sekaligus menciptakan terobosan penting dalam sistem pemerintahan dan kenegaraan yang menjadi model di dunia Arab. Namun, semua keunggulan itu ternyata tidak serta merta mendorong kelahiran kematangan sikap tiap elemen di Mesir dalam upaya membangun demokrasi yang kuat dan stabil.

Pentas politik di Mesir selama dua tahun terakhir ini justru terus memperlihatkan tontonan sebaliknya; egoisme kelompok yang begitu telanjang, sikap mau menang sendiri tanpa tanggung jawab memadai, dan tidak legawa menerima kekalahan demi kepentingan yang lebih luas. Sikap politikus dan sejumlah pemimpin gerakan di jalanan Mesir kadang tidak lebih dewasa ketimbang murid taman kanan-kanak.

Lebih buruk lagi, kondisi memprihatinkan ini terus dieksploitasi oleh anasir-anasir rezim lama yang merasa terancam jika terwujud Mesir baru yang demokratis, stabil, dan menegakkan keadilan hukum. Celakanya, orang-orang ini memiliki resources yang amat besar sebagai hasil jarahan mereka terhadap harta negara selama beberapa dekade. Mereka yang semula bertiarap itu kini tampil kembali di atas panggung politik Mesir, baik dengan baju elemen masyarakat sipil, para penguasa media, maupun pemain-pemain di balik layar partai politik.

Menjadi Ancaman

Mereka akan melakukan apa pun sebab itu menyangkut survival dan eksistensi. Mereka tidak akan menghentikan genderang perang pascareferendum konstitusi ini. Musuh mereka adalah siapa saja yang ingin membangun Mesir yang kuat dan demokratis serta berani menegakkan hukum terhadap anasir-anasir kekuatan lama.

Apalagi, proses pembuatan rancangan konstitusi baru itu sejak awal dipermasalahkan terutama mengenai keterwakilan elemen-elemen masyarakat Mesir dalam badan perumus draf konstitusi itu. Ikhwan dituduh mendominasi badan itu dengan menerapkan representasi hasil parlemen yang telah dianulir.

Kini Mesir memerlukan sikap kenegarawanan pemimpin kelompok dan gerakan, pemimpin yang mengutamakan kepentingan negara dan rakyat di atas egoisme kelompok dan ambisi kekuasaan. Sistem apa pun yang akan digunakan saat ini tanpa ada semangat kebersamaan tak akan memecahkan masalah.

Adalah naif menurut hemat saya bila kelompok oposisi yang tergabung dalam Front Penyelamat Nasional menyuarakan tuntutan referendum ulang. Tuntutan aneh lain yang mulai terdengar pascareferendum ini adalah pemilu ulang presiden setelah hasil pemilihan parlemen yang relatif demokratis juga dibatalkan.

Saya bukanlah pendukung atau simpatisan gerakan semacam Ikhwan al-Muslimin, namun menurut hemat saya permainan kelompok-kelompok lama plus egoisme dan euforia kebebasan di Mesir yang hampir tanpa kontrol etis sudah sulit dinalar dan berisiko  mengancam masa depan negeri itu.[]



*http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/12/28/210046/10/Mesir-Demokrasi-Minus-Kematangan



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Rabu, 26 Desember 2012

Wawancara Eksklusif TIME: "Morsi The Most Important Man in The Middle East"


Wawancara majalah TIME dengan Presiden Mohamed Morsi, 28 November 2012. Majalah TIME edisi Desember 2012 menjadikan Morsi sebagai sampul dengan judul "The Most Important Man in The Middle East". Wawancara ini diterjemahkan oleh ukhti Lia Aqeela, Jakarta. Selamat menyimak. [admin]

 [Catatan: sebelumnya TIME menuliskan nama panggilan sang presiden dengan “Morsy” berdasarkan desertasi doktoralnya di Universitas California Selatan; Para penasehatnya di Kairo menyampaikan penulisan yang digunakan saat ini adalah Morsi. Pihak protokoler meminta Presiden Morsi untuk menjawab pertanyaan dari editor dan reporter TIME dalam bahasa Arab, bahasa asli beliau, bahasa resmi Mesir. Alih-alih, sebagai penghormatan terhadap tamunya, ia lebih banyak menggunakan bahasa Inggris, yang telah rutin digunakannya sejak tiga dekade silam]

TIME: Anda sekarang berada di panggung dunia. (You’re on the world stage now.)

Presiden Mohamed Morsi: (berbahasa Inggris) Panggung dunia itu sangat sulit. Tidak mudah ketika berada di panggung dunia. Dunia sekarang ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan saat revolusi dulu di negara anda (AS). Bahkan kian bertambah sulit. Dunia ini, semakin rumit, kompleks dan sulit. Strukturnya seperti spageti. Segalanya tercampur jadi satu. Jadi bagaimanapun juga kita harus menyikapi segala sesuatunya dengan tenang, sehingga kita semua – seluruh dunia, bisa berjalan bersama-sama dengan damai – dan mudah-mudahan damai dalam segala hal. Saya pikir anda tahu bahwa banyak orang suka mengatakan bahwa kita harus menjaga  kedamaian. Saya tidak sedang membicarakan kedamaian menurut makna tradisionalnya. (yang saya maksud) adalah damai pikiran, damai hati, damai dalam hidup bersama, dalam bermasyarakat, damai secara kultural, tidak sekedar damai dalam hal kemiliteran.

(beralih ke Bahasa Arab) terima kasih atas perhatian anda... (yang telah mengadakan sesi wawancara ini). Ini sebuah jembatan yang baik antara Mesir dan Amerika Serikat.

(dalam Bahasa Inggris) Yang saya maksud dengan Amerika Serikat, lebih merujuk pada orang-orang Amerika, bukan sekedar para pejabat otoritas, politisi dan semacamnya. Yang saya tahu, orang Amerika cukup ramah, beradab, mereka telah berjuang dan memberikan apa yang negara mereka miliki kepada dunia. Tentu apa yang kami lihat dari kejauhan sini tidak sama persis (dari realitanya), namun menurut saya, media saat ini telah membuat segala sesuatunya menjadi sangat dekat [yaitu, telah membuat dunia menjadi 'tempat yang lebih kecil'] dan warga dunia bagaikan sebuah komunitas perkampungan kecil, yang berkumpul bersama.

Angin sedang berhembus kesana kemari dan masyarakat disibukkan dengan gaya hidup mereka, tapi menurut saya, mereka sedang berharap untuk dapat melihat situasi dunia yang lebih baik pada masa kepemimpinan kedua Presiden Obama, situasi yang lebih rileks (tidak dalam 'ketegangan perang'). Saya pribadi ingin memanfaatkan situasi ini, untuk membangun sebuah jembatan yang kuat antara kami, antar negara timur tengah, masyarakat daerah timur tengah, masyarakat timur serta barat dan keseimbangan-keseimbangan seperti itu. Sehingga, masyarakat benar-benar merasakan bahwa mereka hidup dalam kedamaian, bahwa mereka tinggal dan berkedudukan kuat di negara mereka. Bahwa mereka benar-benar sedang melakukan yang terbaik untuk dapat meraih harapan, untuk hidup dalam situasi yang damai, merasakan demokrasi, kebebasan.

Rakyat disini (Mesir) tidak pernah mengalami hal-hal seperti itu selama lebih dari 30 tahun – lebih. Berpuluh tahun hidup dibawah rezim yang sangat supresif, sangat diktator .... dan pemerintahan saat itu tidak mau tahu penderitaan rakyatnya. Orang-orang merasa tidak dilibatkan dalam kesetaraan politik. Anda tahu, saya sendiri merasa menderita. Saya telah melihat negara-negara barat dan timur, pergi kesana-kemari, mempelajari sejarah dan melihat situasi yang sedang berlangsung, tentu saja selain (mempelajari) permesinan. [catatan: Morsi mendapatkan gelar doktor teknik mesin dari Universitas California Selatan pada tahun 1982] Saya banyak belajar saat saya tinggal atau singgah di berbagai tempat, terutama saat di Amerika Serikat, hidup bersama warga Amerika Serikat, beserta universitasnya, industrinya, pasar dan toko-tokonya.

Tentu saja saat itu media tidak sekuat seperti sekarang ini, tetapi setiap hari saya bangun pagi untuk menonton Good Morning America, Barbara Walters dan program-programnya yang hebat. Dan tentu saja, Walter Cronkite... dan saya belum lupa... para sandera di Iran [pada masa kepemimpinan Presiden Carter] .... [dan pada hari dimana ia meninggalkan kantornya] mereka melepaskan para sandera yang telah ditawan selama lebih dari setahun. Itu adalah perjuangan besar dan saat itu perdebatan terus berlangsung.

Segala sesuatunya berjalan dengan sedemikian rupa, antara dunia barat dan timur, serta selatan. Masyarakat di selatan juga merasakan banyak penderitaan dikarenakan mereka tidak memiliki kesetaraan dalam pergaulan internasional. Saat ini kami ingin membawa masyarakat kedalam pergaulan internasional, sehingga mereka merasa hidup di negara mereka, mereka bebas, mereka berbicara, mereka bergerak, mereka membuat sesuatu, mereka bekerja, mereka mendapatkan hasil, mereka gagal, apapun itu. Hal ini sangatlah penting. Ini adalah periode baru. Tidak hanya untuk Mesir atau masyarakat Arab, namun bagi saya, untuk dunia keseluruhan. Menelaah kembali kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu, dan memperbaikinya, sebanyak yang kita mampu. Hal ini butuh waktu. Jadi, kecepatannya rendah, akselerasi tinggi. Bagaimanapun juga kami mendorong ke segala arah, berusaha mengatakan kepada warga dunia, dan meyakinkan seluruh pemerintahanan dan para pemimpinnya bahwa kita harus hidup dalam kedamaian.

Konflik tidak membawa kita pada stabilitas dunia. Bekerjasamalah. Bagaimana caranya kita untuk  bisa mewujudkan stabilitas dunia? Ini adalah perjuangan. Perjuangan yang sangat-sangat sulit. Memiliki budaya baru, budaya internasional, menghormati sebuah negara dan kultur masyarakatnya, budaya-budaya lokal mereka, namun dapatkah kita memiliki sebuah budaya internasional? Bisakah kita melakukannya? Sebuah budaya kerja sama, budaya menghentikan perang, pertumpahan darah. Budaya perdamaian adalah sarana perniagaan dunia, aksi-aksi para pejuang dimaksudkan untuk mempertahankan diri, bukan untuk menyerang, (para pejuang) menggunakan kekuatannya untuk kepentingan sipil diatas kepentingan mereka. Bagaimana kita melakukannya? Mewujudkan stabilitas dunia? Saya pikir kita semua bisa. Hal ini telah dilakukan sebelumnya, dua atau tiga abad silam. Tapi telah terjadi sesuatu dengan caranya. Dua kali perang dunia, lebih dari 50 juta orang tewas....

Saya tidak suka orang-orang di negara saya mengatakan, “AS adalah lawan kami,” karena saya tahu rakyat Amerika berbeda dari apa yang telah lama melekat pada pemerintahan mereka – standar ganda – dan anda pun tahu apa yang sedang terjadi di dunia ini. Namun saya pikir, saat ini saya sedang memulai sebuah era baru, yang didasarkan pada keseimbangan, hubungan yang saling menguntungkan dan saling menghormati oleh semua pihak. Afrika. Dunia Arab. Dunia Islam. Negara-negara Eropa, Rusia, Cina. Ini adalah sebuah kompetisi yang sangat sangat besar, kuat dan sulit.

Itulah mengapa saya nyatakan 'situasi saat ini tidak semudah seperti yang sebelumnya'. Saya masih ingat, ada sebuah ungkapan di AS, orang-orang mengatakan bahwa kami adalah bangsa dari seluruh bangsa (we are a nation of all nations). Ini adalah sebuah pernyataan ekspresif. Pernyataan ini mengungkapkan sesuatu secara singkat dan padat, bahwa 'kita dapat hidup bersama'. Saya pikir, AS telah berhasil mewujudkan sebagian besar dari ungkapan tersebut. Namun dipandang dari sisi internasional, ada sesuatu yang berbeda. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan hal-hal yang berbeda.

Lalu bagaimana kita bisa melakukannya? Saat ini, di dunia, terdapat ketidakseimbangan ekonomi. Di salah satu pihak, ada bahan-bahan mentah (sumber daya alam, di negara-negara miskin -ed), di pihak lain terdapat teknologi dan produk penerapan-penerapan ilmiah tingkat tinggi. Mengambil bahan-bahan mentah, memproduksinya, menjualnya kembali, dengan perbedaan harga yang sangat besar, hingga yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Kami ingin membuat sebuah keseimbangan ekonomi, tidak hanya keseimbangan politik. Tentu saja keduanya berhubungan (ekonomi-politik). Namun demikian, menurut saya, dipandang dari segi sosial kemasyarakan, kita tidak mungkin sama persis, tak akan pernah bisa. Pun secara kultural, kita tidak bisa sama.

TIME saat wawancara Morsi di Istana negara

TIME: Bagaimana rasanya membuat kesepakatan bersama presiden Obama selama gencatan senjata di Gaza?

Presiden Obama sangat membantu, sangat membantu. Dan saya percaya apa yang ia lakukan sejalan dengan niatannya (mencipta kedamaian). Kami melakukan perundingan bersama soal gencatan senjata, ini sangat penting, setelah itu baru kami dapat membicarakan perbedaan (keinginan) antara orang-orang Palestina dan Israel. Hal ini tidak gampang. Sangat sulit. Kedua pihak sama-sama berbicara tentang perbedaan. Sementara kami menginginkan mereka berbicara mengenai persamaan.... saat ini kami sedang menjalankan tugas tersebut sebaik mungkin.

Jika kami bisa sukses 60 – 70%, saya anggap itu sebuah keberhasilan besar. Kedepannya, wilayah ini (Palestina-Israel) akan menjadi lebih baik, asalkan kedamaian menjadi perhatian bersama. Stabilitas wilayah Palestina-Israel ini, (beserta) Mesir dan sekitarnya, sangat penting. Karena itulah kami yang di Mesir memiliki tantangan besar. Kekuatan lama negara ini (sisa-sisa rezim -red) berusaha kembali. Tidak diragukan lagi. Anda juga bisa melihatnya di Tunisia. Anda bisa melihat hal yang sama di Libya. Dan anda bisa benar-benar menyaksikannya di Suriah, tujuannya adalah mengembalikan situasi kembali seperti dulu. Kami bertarung melawan tujuan (sisa-sisa rezim) tersebut, bukan individunya. Wilayah-wilayah ini seharusnya memiliki kesempatan untuk berkembang. Biaya untuk perkembangan ini jauh, jauh lebih murah dibandingkan biaya perang. Semua orang berusaha kuat untuk mendapatkan situasi yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik untuk anak-cucu mereka, untuk wilayah mereka.

Hal ini membutuhkan waktu panjang. Ini adalah sebuah kondisi bottle-neck* yang menyita banyak waktu (situasi tersumbat oleh sistem warisan lama yg belum diperbaiki -ed). Di Amerika Serikat sendiri, situasi bottle-neck seperti ini telah menyita waktu dan menumpahkan darah, dalam jangka waktu lama, tidak sebentar. Dan Abraham Lincoln dipandang sebagai sosok bersejarah yang menunjukkan kepada orang-orang bagaimana bisa bersatu setelah perang dan mewujudkan situasi negara yang lebih baik. Ia telah diberi kesempatan, dan menurut saya ia menuai keberhasilan pada sebagian besar usahanya. Penderitaan kemudian melahirkan stabilitas. Atau, memaksakan terciptanya stabilitas saat menyadari bahwa penderitaan hanya berlangsung pada saat proses kelahiran, setelah itu rakyat akan menyadari bahwa mereka harus tetap berpegang pada apa yang telah dicapai.

Maka ketika (warga) dunia memandang dirinya dan menyaksikan apa yang sedang terjadi, menurut saya saat ini mereka menyadari, orang2 di dunia ini menyadari, bahwa kebebasan itu lebih baik dibandingkan dengan kediktatoran. Demokrasi itu lebih baik untuk kehidupan dunia. Jika terdapat kediktatoran di sebuah titik di dunia ini, dimana orang2 tidak memperoleh kebebasan, mereka tidak mendapatkan kepuasan, tidak menemukan makanan atau tempat berteduh, mereka berada di bawah garis kemiskinan, maka titik ini berbahaya bagi dunia keseluruhan, karena orang2 itu akan berpindah, dan mereka berpindah ke tempat yang berbeda2. Mereka akan membawa perasaan buruk terhadap orang lain. Mereka bisa saja bersikap jelek. Mereka  bisa saja bersikap salah. Lalu bagaimana kita menjamin pembangunan untuk Afrika, untuk Timur Tengah, untuk negara2 di wilayah ini? Rakyat Mesir siap. Kami memiliki sumber daya. Kami memiliki potensi. Kami memiliki populasi yang boleh dikatakan unik dan beragam. Kami siap. Kami telah berada di jalan. Kami sedang mencoba mendorong kemudian beranjak. Hal ini tidak mudah. Butuh momentum yang sangat tinggi untuk bisa mendorong terjadinya semua ini.

Kapal kami, entah bagaimana, tergeletak di atas pasir, bukan di air, maka kamu harus menariknya maju, bukan mundur, ke air yang jernih. Tidak mudah. Untuk menjalin hubungan yang baik dengan dunia, membantu pembangunan, menciptakan integrasi antara pembangunan dan hubungan internasional dan investasi dan ekonomi, dan sekaligus juga menebar niat dan perbuatan baik. Kemudian untuk membangun hubungan timbal balik dan seimbang dengan pihak lain. Mencabut kebencian yang telah tertanam dalam hati. Selama ini, orang2 telah menjadi saksi: pertumpahan darah di Palestina dan tempat2 lainnya, Iraq dan Afghanistan, dan sekarang di Yaman, Libya. Perasaan mereka buruk. Segala upaya pemisahan Utara dan Selatan, Timur dan Barat, Darfur, apapun itu. Ketidakstablian di kawasan teluk. Ancaman terhadap Iran dan peranannya dalam hubungan politik internasional dan dunia. Pertarungan di ladang2 minyak. Hal-hal seperti ini bercampur jadi satu, dimana dibutuhkan kepemimpinan yang lebih kuat, yang memiliki visi...(harus ada pihak) yang mengambil peran kepemimpinan dan melakukan tindakan.

Sekarang adalah saat untuk bertindak. Segala hal prinsip telah disepakati. Namun pelaksanaannya? Tidak seorangpun mendebatkan prinsip-prinsip tersebut. Semua berbicara tentang kedamaian, semua berbicara tentang pembangunan, semua orang berbicara mengenai kemerdekaan negara. PBB dibentuk tahun 1947. Sebelumnya Liga Bangsa-Bangsa. Namun sebenarnya, di lapangan, tindakan yang diambil tidak tegas. Saya pikir, kita (PBB) ini ada lebih dari 190 negara.  Saat ini  Palestina sedang mencoba mejejakkan kaki di gelanggang (dunia). Dan kami membantu mereka. Bukan berarti mereka kemudian bisa menyerang yang lain. Saya pikir mereka tidak memiliki kemampuan ini. Maksimal yang bisa mereka lakukan adalah: bertahan, dan bertanya: Kehilangan apalagi yang harus kami alami?

TIME: Apakah sebenarnya al Ikhwan al Muslimin organisasi yang demokratis?

Dari segi definisi (demokrasi), ya. Dari makna yg luas, ya, tentu. Organisasi ini tegak berdasarkan keyakinan, keyakinan Islam, kebebasan bagi semua orang, kebebasan berkeyakinan, kebebasan berpendapat, kesetaraan, stabilitas, HAM. ERA (Equal Right Amandement). Nilai-nilai itu tidak hanya ada di Amerika. Amandemen Kesetaraan Hak. Siapapun. Ini adalah sebuah keyakinan, semuanya berasal dari keyakinan kami: demokrasi, kesempatan yang merata. Namun juga ada tanggung jawab. Hukum. Konstitusi.

Mesir adalah sebuah negeri tua; dan juga sebuah negara tua. Konstitusi yang dipakai di Mesir juga cukup tua. 1923. Itu (konstitusi) yang pertama. Dan kami sedang melangkah menuju posisi yang lebih stabil. Kita tidak akan bisa mewujudkan stabilitas tanpa adanya kebebasan, demokrasi, (penjaminan) hak bagi setiap orang, kesetaraan hak, kesejajaran hak pria dan wanita, bagi Muslim, Kristiani, dan bagi siapapun yang ingin berpendapat. Kesamaannya, garis dasarnya, referensinya adalah, kebangsaannya, kewarganegaraannya – Mesir, itu saja. Dan hukum berlaku bagi semua orang.

Dulu terdapat banyak pelanggaran. Maka, usaha yang selama ini dilakukan oleh IM adalah membentuk sebuah negara institusional dan konstitusional, jadi menurut saya, saat kami mendapatkan kesempatan, ini menguntungkan seluruh warga Mesir, keuntungan bagi siapapun yang ada di Mesir, Kristiani dan Muslim dan keuntungan pula bagi IM dan pihak2 lain dengan adanya negara yang institusional dan konstitusional.

Saya sangat senang mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya dalam berekspresi. Kebebasan yang sebenarnya dalam berkeyakinan. Dan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama. Saya senang, dan akan selalu senang dengan adanya peralihan kekuasaan. Saya adalah presiden terpilih. Tanggung jawab terbesar saya adalah menjaga kapal nasional ini mengarungi masa transisi. Ini tidak mudah. Warga Mesir bertekad untuk melangkah melalui jalan kebebasan dan demokrasi, dan inilah yang saya lihat. Keadilan (hukum) dan keadilan sosial. Pembangunan dalam makna komprehensifnya. Pengembangan SDM. Pengembangan industri produktif. Penelitian ilmiah. Pembangunan politik. Hubungan internasional yang seimbang dengan semua pihak, Timur dan Barat. Kami yang di Mesir merasa bersemangat dan secara personal saya pun bersemangat dalam menjaga kebebasan, demokrasi, keadilan dan keadilan sosial. IM pun seperti itu.

TIME: Dekrit yang dikeluarkan pekan lalu mengundang banyak kontroversi. Jika anda dapat mengulanginya lagi, apakah anda akan mengeluarkan dekrit yang berbeda? Merevisinya?

(berbahasa Inggris) Oh tidak, saya pikir tidak demikian. Yang saya lihat sekarang ini, warga Mesir bebas. Mereka bersuara saat mereka beroposisi dengan presiden, dan saat mereka menentang situasi yang tengah terjadi. Dan ini merupakan hal yang sangat penting. Itu adalah hak mereka dalam berpendapat, dan bersuara dan mengekspresikan perasaan dan menunjukkan sikap mereka. Namun ini adalah tanggung jawab saya, yang saya lihat lebih banyak dibandingkan dengan apa yang mereka lihat. Saya rasa anda telah mengetahui (hasil) jajak pendapat terkini. Menurut saya, lebih dari 80, sekitar 90% rakyat Mesir – berdasarkan hasil jajak pendapat tersebut – mendukung apa yang telah saya lakukan. Dan yang saya lakukan ini tidak bertentangan dengan (keinginan) rakyat. Namun berpihak pada rakyat, bersamaan dengan maslahat (yang dihasilkan). Ada sedikit perbedaan cara penyampaian pendapat sekarang ini dengan yang apa yang terjadi pada Januari 2011 (pada masa pemberontakan terhadap Presiden Hosni Mubarak). Saat ini muncul kekerasan yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, yang menandakan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Ini adalah tanggung jawab saya, pada dasarnya tidak masalah mereka berekspresi. Namun terjadi beberapa kekerasan. Selain itu, ada benang merah antara kekerasan2 ini dan simbol-simbol dari rezim terdahulu. Saya pikir, anda dan saya – saya memiliki lebih banyak informasi – tapi anda bisa merasakan hal tersebut.

Saya tidak khawatir. Saya yakin rakyat Mesir akan melewati situasi ini. Kita sedang belajar. Kita sedang belajar bagaimana bisa bebas. Kita tak pernah menemui (situasi) seperti ini sebelumnya. Kita sedang belajar bagaimana berdebat. Bagaimana menghadapi perbedaan. Bagaimana menjadi mayoritas dan minoritas. Bukan minoritas [meralat], namun mayoritas dan oposisi. Saat ini kami tidak memiliki lembaga parlementer. Sungguh disesalkan. Saat ini kami tidak memiliki konstitusi. Situasi sekarang memaksa kami, mendorong kami, untuk menyelesaikan (konstitusi), namun hal tersebut harus dilakukan dalam situasi dan iklim yang stabil, sehingga rakyat dapat pergi untuk memberikan suara (dalam perumusan) konstitusi. Kami ingin menuntaskannya.

... saya adalah presiden seluruh rakyat, yang bertugas memperhatikan apa yang terjadi di perbatasan kami, melihat apa yang terjadi di selatan, di Laut Mediterania, di Sinai, di Tahrir dan di tempat2 lainnya. Ini adalah tanggungjawab yang berat. Ini sebuah tantangan. Ini bukan tugas yang membahayakan, tapi tugas penting. Saya harus memperhatikan hal-hal tersebut dan mencari cara agar kita bisa melewati situasi bottle-neck ini. ini situasi yang panjang, yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Dan kemungkinan akan memakan waktu lebih lama lagi kedepannya. Namun saya yakin kami akan memiliki konstitusi. Ini penting. Jika kami memiliki konstitusi, maka apa yang saya ucapkan dan lakukan pekan lalu (dekrit) akan dicabut [Ia mengusap-usap tangannya].

Kami akan memiliki konstitusi yang merepresentasikan keinginan rakyat. Saat ini kami tidak punya parlemen, jadi saya bertanggung jawab [ia mengacungkan satu jari ke udara] untuk mengeluarkan peraturan, yang merupakan tugas besar, tugas yang serius. Saya tidak suka menggunakan kekuasaan saya, kecuali ada keharusan. Jika tidak, jika saya tidak harus menggunakannya, maka tidak akan saya gunakan. Kami ini sedang bergerak, perlahan, [dengan] kesulitan, namun juga keberhasilan. Maka ketika kami lihat orang-orang menyampaikan pendapat mereka beramai-ramai, itu bagus. Ini sebuah tanda positif. Tapi tidak dengan kekerasan. Jadi siapapun yang mencoba dan tidak mengamati keuntungan (yang diberikan oleh) kelompok mayoritas ini, dan berusaha menggoyangkan kapal, maka ini menjadi tanggung jawab presiden, tanggung jawab pemerintah, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Menggoyang perahu tidak akan menguntungkan siapapun. Sebaliknya, ini akan merugikan.

Kami berada dalam sebuah situasi yang pelik Kami bergerak, kami belajar. Kami memiliki kebebasan, iklim yang baru, lingkungan yang baru. Rakyat bebas. Mereka berkespresi. Mereka bergerak. Tidak ada yang menghentikan mereka, tapi kekerasan yang dilarang tidak seharusnya dibiarkan. Hal tersebut melawan hukum. Bertentangan dengan kemaslahatan rakyat. Jika kita terus bersuara dengan cara damai, itu sesuatu yang bagus. Inilah salah satu keuntungan revolusi Mesir. Meminimalkan pertumpahan darah, dan mempertahankannya tetap seperti itu.

Kami mengawal [rakyat]. Kami mencari tahu. Kami mengukur. Kami melihat. Kami mengizinkan rakyat bergerak. Mereka bebas. Namun tanggung jawab kami adalah menjaga keselamatan mereka, mengawal mereka. Memberi mereka kesempatan berekspresi tanpa kekerasan di sekitar Meydane Tahrir [lapangan Tahrir]. Pergerakan mereka ini bahkan telah dimulai sebelum saya mengeluarkan [dekrit] yang konstitusional; situasi tersebut telah berlangsung selama lebih dari delapan hari atau sekitar itu. Hal itu semacam .... salah paham segelintir pihak. Namun tak apa. Hal tersebut akan lewat. Akan pergi, dan menurut saya, akan tercatat sebagai sebuah titik kebaikan dalam sejarah pergerakan kami dua tahun belakangan ini. Menurut saya, kami telah beberapa kali mengalami kejadian besar seperti ini di masa lalu. Dan selama pemilihan presiden dulu, anda menyaksikan apa saja yang terjadi. Dulu itu ada konflik hebat dan luar biasa antara kekuatan lama dan aksi-aksi revolusi.

Ini adalah eksperimen pertama kami, pengalaman pertama kami dalam sejarah. Lalu apa yang anda harapkan? Segala sesuatunya berjalan dengan mulus? Tidak. Perjalanannya, paling tidak, akan sukar. Bukan kekerasan, tapi kesukaran. Karena itulah, kami memiliki kesabaran yang cukup. Kami harap, bisa dengan cepat melewati ini menuju pembentukan konstitusi. Seperti yang saya pahami dari panitia pembentukan konstitusi, mereka membutuhkan waktu kira-kira satu bulan. Saya bilang, dua bulan. Saya berikan mereka waktu untuk menggelar diskusi sosial kemasyarakatan tentang pasal-pasal (yang dirumuskan), ada sekitar 230 pasal, mereka berselisih tentang 15 pasal. Hal ini memakan waktu. Mereka sedang bekerja sebaik mungkin. Dan saya sedang mengupayakan sebanyak mungkin pembicaraan dengan seluruh partai politik. Pihak gereja, dan blok-blok lainnya.

Jadi, Mesir ini sedang bergerak. Sekarang ini kami memiliki Mesir baru. Sebuah negara sipil, bukan teokratis, bukan negara para militan. (namun) mengarah ke sebuah negara sipil konstitusional yang sebenar-benarnya. Ada perlawanan. Ada kesulitan, rintangan, banyak hal kami dapati, namun (tetap) Mesir ini sedang melangkah. Rakyat Mesir akan berhasil, insyaallah.

TIME: Tahun ini, 2012, adalah tahun besar, banyak hal terjadi. Banyak orang mengelu-elukan anda sebagai seorang negarawan, sementara yang lain memberi peringatan bahwa anda adalah Fir’aun baru.

Fir’aun baru? [tertawa geli] Bisakah saya? Saya ini telah lama menderita. Menderita, secara personal!

(beralih ke Bahasa Arab) Karir politik saya telah dimulai sejak lama. 1986. Saya diajukan dalam pemilu parlemen tahun 1995 dan pemilu tersebut berlangsung curang. Kemudian saya diajukan di pemilu parlemen tahun 2000, lalu saya menjadi anggota parlemen periode 2000-2005. Saya diajukan kembali di pemilu 2005, lagi-lagi, terjadi kecurangan pada pemilu ini. Saya telah diamanahi tanggung jawab di bidang politik oleh IM selama 10 tahun. Saya berasal dari kalangan masyarakat Mesir. Saya mengetahui kondisi masyarakat secara keseluruhan serta penderitaan mereka. Saya berasal dari wilayah Sharkia, timur Kairo, tapi saya lulusan Universitas Kairo. Dan saya menerima gelar doktor dari Amerika Serikat.

Saya dijebloskan ke penjara, [Ia menyentuh dasinya] dan saat itu posisi saya adalah ketua departemen bahan ajar di universitas. Alasan penjeblosan saya ke penjara adalah karena saya membela peradilan dan hakim2 Mesir. Saya tahu persis apa arti pemisahan tiga kekuatan (Trias Politika), eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemisahan ini merupakan konsep utama negara yang berdasarkan institusi. Rakyat adalah sumber kekuatan yang sebenarnya. Presiden adalah representasi kekuatan eksekutif, dan ia dipilih oleh rakyat. Saya senang ketika rakyat mendapatkan kebebasan yang sempurna dalam pemilu, dan saya senang peralihan kekuasaan berlangsung melalui pemilu yang bebas. Saya telah pergi keliling dunia, apakah itu ke Amerika Serikat, ke Eropa atau negara2 Timur, dan saya tahu bagaimana segala sesuatunya berjalan. Saya paham teknologi, penelitian, aplikasi2 ilmiah, budaya, peradaban, perbedaan antara negara2 dunia, karakter sejarah. Dan saya cendekiawan Islam.... (beralih kembali ke Bahasa Inggris) saya bukan cendekiawan, saya berbicara tentang Islam. Saya tahu apa itu Islam, sungguh. Saya tahu apa itu Islam, makna komprehensif Islam, makna perbuatan damai, dan bagaimana Islam diterapkan dalam hidup masyarakat. Kesalahan penafsiran beberapa nilai-nilai Islam pun tidak tepat. Saya tahu tujuan riil, makna dan pengaplikasian Islam. Saya telah melakukan dan mempraktekkan hal-hal tersebut sejak lama, dalam kehidupan personal saya, dalam hidup bermasyarakat, di parlemen dan berapa lama saya di istana kepresidenan? Lima bulan. Bukan 30 tahun [lama pemerintahan Mubarak]. Baru lima bulan.

Bukan dua tahun, bukan 30 tahun. Hanya lima bulan. Lima bulan setelah adanya kerusakan-kerusakan besar, korupsi, perbuatan-perbuatan tidak terpuji. Rakyat telah lama dimarjinalkan. Saya merupakan bagian dari revolusi. Dan saya penanggung jawab aksi-aksi di Lapangan Tahrir dari pihak IM, perwakilan IM selama revolusi. Segala sesuatunya menjadi jelas dan saya sangat senang dengan kunjungan anda. Pertanyaan terakhir?

Saya berharap, ketika nanti kami memiliki konstitusi, dekrit yang telah saya keluarkan akan dicabut dengan segera, dan (saya harap) di kemudian hari akan ada lebih banyak pihak yang bercerita kepada anda mengenai hal-hal yang saya tuturkan sekarang ini, kami akan memiliki parlemen, kami akan mengadakan pemilu. Dua bulan untuk itu semua.

TIME: Apakah kepentingan masyarakat terjamin dalam konstitusi?

Mereka akan memberikan suara. Saat ini mereka sedang bertukar pendapat dalam komisi, komisi legal, yang dipilih. Ketika mereka selesai, saya akan membawanya ke tengah-tengah masyarakat untuk didiskusikan selama kurang lebih dua pekan, kemudian rakyat akan berpartisipasi dalam pemungutan suara. Menurut saya, hal ini merupakan tanggung jawab mereka secara keseluruhan.

TIME: Tapi bagaimana dengan kondisi politik di sekitarnya? Tidakkah kejadian-kejadian selama sepekan terakhir ini mengindikasikan bahwa rakyat memisahkan diri, bukan malah menggabungkan diri mendukungnya?

Tidak, mereka tidak memisahkan diri. Bukan memisahkan diri. Ini soal mayoritas dan oposisi. Saya dapat melihatnya dengan sangat jelas. Namun kubu oposisi tidak sama seperti dulu. Mereka punya hak, mereka (dapat) melakukan apa yang mereka katakan. Jika persentase oposisi 25% atau 30%, itu jumlah yang besar. Populasi kami 90 juta.

Jadi menyatakan pendapat, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara damai itu sangat sehat. Sangat penting. Tapi tidak dengan kekerasan. Itulah bedanya. Dan kekerasan itu berhubungan dengan, seperti yang telah saya bilang, rezim terdahulu, dengan beberapa cara lain mereka berusaha menghentikan (laju Mesir), dan menghambatnya.

2012 adalah tahun terbaik bagi rakyat Mesir, dalam kehidupan mereka, dalam sejarah mereka. Kami telah menyelenggarakan pemilu presiden yang sesungguhnya sepanjang sejarah. Hal tersebut tidaklah mudah, apalagi ini berkaitan dengan lahirnya sebuah negara. Dan negara itu besar, tua, kuat dan memiliki akar sejarah yang panjang. Kami punya peneliti, kami memiliki politisi, ada kubu oposisi, ada petani, ada pelajar, anak-anak, semuanya itu adalah.... adalah keragaman yang tak terhitung.

Saat ini, tidak mudah memimpin negara dengan keragaman seperti itu. Namun tidak masalah. Kami sanggup melakukannya. Insyaallah kami akan melakukannya dengan sukses dan damai. Untuk kami, untuk seluruh daerah, dan seluruh dunia. Kami datang dengan misi kedamaian. Kami tidak melawan individu-individu atau negara2 tertentu, kami ingin hidup berdampingan dengan yang lain dalam kedamaian, kedamaian yang sebenarnya, kedamaian yang menyeluruh.[]


_____________
*Bottle-neck adalah situasi dimana pergerakan sedang terhambat. Seperti air yang ada di dalam botol, ketika dituang alirannya tertahan di leher botol yang sempit.


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Konstitusi Baru Mesir: Perbedaannya dengan Versi Lama | Luar Biasa Ternyata

Versi tulisan dari VOA saja luar biasa begini. Isi Konstitusi yg luar biasa begini bagaimana mungkin liberalis sekuleris koptik menolak? Kami copas secara utuh dari berita VOA Indonesia. [admin]
President Morsy signing Egypt's first democratically written/ratified constitution

Konstitusi Baru Mesir: 
Perbedaannya dengan Versi Lama 

Konstitusi Mesir yang baru, disetujui oleh pemilih dalam referendum dua tahap bulan ini, menggantikan Piagam 1971 yang dibekukan tahun lalu setelah protes meluas yang menumbangkan kekuasaan panjang meden Hosni Mubarak.

Berikut adalah kesamaan dan perbedaan antara kedua dokumen tersebut dalam beberapa isu kunci:

Peran Islam

Kedua konstitusi menetapkan Islam sebagai agama resmi di Mesir dan Hukum Islam, atau syariah, sebagai sumber utama legislasi. Keduanya juga mewajibkan negara untuk “mempertahankan” nilai keluarga tradisional yang berdasarkan Islam.

Namun konstitusi 2012 untuk pertama kalinya mendefiniskan syariah. Dokumen tersebut menetapkan prinsip-prinsip syariah termasuk “bukti, peraturan, yurisprudensi dan sumber-sumber” yang diterima oleh Islam Sunni, sekte Islam mayoritas di Mesir.

Dokumen baru juga memberikan wewenang yang belum pernah ada sebelumnya kepada Al-Azhar, sekolah agama paling dihormati dalam kelompok Islam Sunni, dengan menyatakan bahwa semua hal berkaitan syariah harus dikonsultasikan pada para akademi di sekolah tersebut. Piagam 1971 tidak menyebut-nyebut Al-Azhar.

Hak Asasi Manusia

Kedua dokumen menyatakan bahwa tahanan tidak boleh menjadi target “bahaya fisik maupun moral” dan negara harus menjaga kehormatan diri mereka.

Dalam hal perlindungan hak asasi yang baru, konstitusi 2012 melarang semua bentuk eksploitasi manusia dan perdagangan seks.

Hak Perempuan

Kedua dokumen meminta negara membantu perempuan dalam biaya mengasuh anak dan menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan. Namun dokumen-dokumen ini berbeda dalam hal persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Pembukaan konstitusi 2012 menyatakan bahwa Mesir menaati prinsip persamaan “untuk semua warga negara, perempuan dan laki-laki, tanpa diskriminasi atau nepotisme atau perlakuan yang memihak, baik dalam hal hak maupun kewajiban.”

Bagian utama dokumen baru juga mengandung dua pasal yang melarang negara melanggar hak dan kesempatan yang sama bagi warga negara. Namun kedua pasal tersebut tidak secara eksplisit melarang diskriminasi terhadap perempuan.

Konstitusi 1971 menyertakan satu pasal yang mewajibkan negara untuk memperlakukan perempuan dan laki-laki secara sama dalam “ranah politik, sosial, budaya dan ekonomi,” selama perlakuan tersebut tidak melanggar syariah.
Satu pasal lain secara eksplisit melarang diskriminasi gender.

Kebebasan Ekspresi

Kedua piagam menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat secara verbal, tulisan atau gambar, dan kebebasan pers untuk memiliki organisasi berita dan menerbitkan berita secara independen.

Dokumen 2012 melakukan perubahan besar dengan menjamin kemerdekaan berkeyakinan untuk “agama monoteis/samawi” – sebuah referensi untuk Islam, Kristiani dan Yudaisme.

Konstitusi tersebut menyatakan bahwa pengikut agama-agama tersebut memiliki hak untuk melaksanakan ritual keagamaan dan mendirikan tempat ibadah “sesuai aturan hukum.” Undang-undang dasar terdahulu tidak menyebutkan hak-hak agama selain Islam.

Dalam perbedaan lainnya, dokumen yang baru tersebut mencakup larangan terhadap “penghinaan” terhadap nabi-nabi dalam Islam.

Wewenang Presiden

Kedua konstitusi menetapkan presiden sebagai komandan militer tertinggi dan kepala Dewan Pertahanan Nasional, lembaga yang beranggotakan enam menteri Kabinet sipil dan enam pejabat tinggi militer.

Dokumen-dokumen tersebut juga mengatakan bahwa presiden hanya dapat menyatakan perang atas persetujuan parlemen.

Beberapa batasan untuk otoritas presiden ditambahkan pada piagam 2012. Dokumen ini mengurangi masa jabatan presiden dari enam tahun menjadi empat tahun, dan presiden hanya dapat dipilih kembali satu kali, tidak terbatas seperti dalam era Mubarak.

Kandidat perdana menteri yang dicalonkan presiden juga harus disetujui parlemen sebelum diangkat. Sebelumnya, presiden memiliki hak untuk menunjuk atau memecat perdana menteri tanpa veto parlemen.

Piagam 2012 juga mewajibkan presiden untuk berkonsultasi dengan Dewan Pertahanan Nasional sebelum menyatakan perang.

Dokumen ini sama sekali tidak menyebut wakil presiden. Mantan presiden Mubarak memiliki hak untuk mengisi pos tersebut sesuai dokumen 1971, namun ia hanya melakukannya pada hari-hari akhir kekuasaannya.

Kekuasaan Militer

Konstitusi yang baru secara signifikan memperkuat otoritas pasukan bersenjata Mesir. Dokumen itu menyatakan bahwa presiden harus memilih menteri pertahanan dari pejabat tinggi militer. Pilihan tersebut tidak dibatasi sebelumnya.

Di bawah piagam yang baru, kekuasaan untuk menetapkan anggaran pasukan bersenjata dijamin oleh Dewan Pertahanan Nasional, setengah dari anggotanya adalah pejabat militer.

Pejabat senior militer juga mendapat kekuasaan lebih tinggi untuk menyeret warga sipil ke pengadilan militer, namun hanya dalam kasus-kasus kejahatan yang dianggap “membahayakan pasukan bersenjata.”

Selain itu, dokumen 2012 juga menciptakan Dewan Keamanan Nasional yang beranggotakan pejabat senior militer dan menteri Kabinet yang sipil dengan jumlah berimbang.

Dewan tersebut diberikan tugas untuk mengadopsi strategi-strategi keamanan, mengidentifikasi ancaman keamanan dan mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut.

*http://www.voaindonesia.com/content/konstitusi-baru-mesir-perbedaannya-dengan-versi-lama/1572237.html

 
___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Senin, 24 Desember 2012

Jalan Dakwah, seindah-indahnya nuansa kehidupan

Oleh Sardini Ramadhan*
| Pontianak

Jalan dakwah adalah sebaik-baiknya jalan menuju surga. Seindah-indahnya nuansa kehidupan. Sebagus-bagusnya teman menyempurnakan ketaatan. Jalan dakwah adalah jalan yang memberikan begitu banyak tawaran pahala menggiurkan dengan sejuta sensasi kebahagiaan.

Jalan dakwah sudah seharusnya dinikmati selayaknya menerima anugerah kehidupan yang lain. Tak banyak orang yang berada di jalan ini. Dari yang tak banyak itu kita mungkin salah satunya. Kenapa harus kita? Ya memang harus kita, karena kita telah melakukan perjalanan yang jauh dalam menggapai kesempatan untuk bisa berada dijalan ini. Karena kita telah berikhtiar menjemput kesempatan dijalan ini dan ternyata ikhtiar itu tak bertepuk sebelah tangan. Buktinya hari ini, hari sebelumnya dan hari selanjutnya dan insya Allah hingga usia menempuh batas limitnya kita tetap ada dijalan ini.

Jalan dakwah ini memang istimewa. Inilah jalan hidup yang telah dilalui oleh manusia-manusia hebat sekelas para nabi, para sahabat, para tab’i dan tabi’in. Para Shalafusshaleh dan orang-orang besar yang namanya menyejarah hingga kini. Mereka menyejarah karena jalan dakwah yang dilalui. Mereka dikenang karena kesungguhan niat untuk bertahan dijalan ini. Kemudian dengan sangat bersemangat mereka meregenerasi pejuang dakwah selanjutnya. Mereka sadar usia kehidupannya tak lama. Usia kesempatan beramal yang sebentar harus diperlama dengan menghadirkan manusia-manusia dakwah baru. Dengan hadirnya mereka niscaya keberlangsungan dakwah dan tentunya amal kebaikan mereka akan selalu ada.
   
Mereka benar-benar menikmati jalan dakwah. Mereka telah mewakafkan hidupnya untuk berjuang melalu jalan dakwah yang mulia. Mereka isi hidupnya dengan amalan dakwah yang menakjubkan. Mereka adalah orang-orang yang merasakan surga dunia dari aktivitas dakwah yang dilakukannya. Wajahnya bercahaya, kata-katanya menghadirkan rasa takwa yang menggelora, semangatnya menerangi kegersangan hati dari orang-orang sekelilingnya. Begitulah pejuang dakwah , mereka benar-benar menikmati jalan dakwah ini. Mereka hadirkan sensasi pembelajaran yang mencengangkan sejarah.

Surga dunia yang disegerakan untuk mereka telah membuat mereka lupa bahwa saat ini mereka masih tinggal di dunia denga aneka ujiannya. Mereka merasa hari-hari yang telah dilaluinya layaknya kehidupan surga sebenarnya. Tak ada kemurungan wajah dan kegersangan hati. Tak ada masalah yang membuat wajahnya berubah sendu. Ya mereka layaknya penghuni surga dengan segenap kegembiraaan yang tiada berbilang diwajahnya.

Sungguh merugi orang-orang yang telah merasakan jalan dakwah tapi dia tidak menikmatinya. Tidak mendapatkan titisan kehidupan surga dalam perjalanannya. Tidak bahagia sebagaimana kebahagiaan para pengusung dakwah lainnya.

Mari menikmati setiap usaha kita dijalan ini. Ketahuilah lelah-lelah kita, harta bahkan nyawa yang kita korbankan dijalan ini akan tergantikan surga yang indah. Susungguhnya titisan surga itu adalah saat hati kita benar-benar menikmati dengan lahap kelezatan hidup dijalan ini. Selamat menemukan kebahagiaan hidup dijalan dakwah. Selamat menikmati jalan ini hingga usia mengakhirinya.[]


*kiriman dari sardiniramadhan@gmail.com



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

"Kalian ini bangsa yang ramah!"




by lia aqeela
jakarta | alumnus sastra inggris UNJ



Perbincangan pagi ini (25/12) dengan teman saya, orang Rusia tulen.

Dia bertanya, "sudah di tempat kerja, Lia?"

Saya jawab, "nggak. hari ini libur. Orang-orang Kristen sedang merayakan natal."

"Tapi bukankah kalian negara muslim?" Ia agak terkejut.

"Ya, muslim itu toleran terhadap siapapun, selama mereka tidak melakukan hal-hal yang membahayakan," jawab saya.

Ia membalas, "Oh... saya jadi ingin tau apakah kalian juga libur di hari besar orang Katolik."

"Kami libur pada hari raya orang Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha." ujar saya.

"Kalian ini bangsa yang ramah!" ia berujar sambil mengetikkan ikon tawa di penghujung kalimatnya.

"Sebenarnya, semua Muslim itu ramah." ujarku, sekaligus juga mengakhiri kalimatku dengan ikon senyum....

Jadi ingat ketika Rosulullah saw dilempari kotoran dan pasir oleh orang-orang kafir, dan pada saat itu sahabat-sahabat beliau ingin membalas kelakuan mereka, namun Rosul mulia mencegah dan berucap, "mereka itu tidak tahu..."

Ya, mereka tidak tahu kalau Islam itu friendly.... :)


*http://www.facebook.com/lia.aqeela 



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Merubah Mindset 'Frame Dakwah' | Kultwit @kang_nugo



Nugroho Adinegoro
@kang_nugo
| Media Communication Consultant
Bandung



  1. Terkadang merubah frame perjuangan dawah itu membenturkan garis haroki dgn garis ukhuwah islamiyah yg hrsnya tertali.. #frame

  2. Apakah ada sebuah negara yg telah menerapkan sistem ekonomi, peradilan, politik yg sdh mencapai tingkat yg meyakinkan?

  3. Apakah pengagungan sistem kita baik politik, ekonomi Islam, dll sdh mencapai tgkt yg menjanjikan saat ini?

  4. Pertanyaan sederhana memang. Tetepi itulah "lubang besar" yang menganga ketika kita mengkomunikasikan Islam pd masyarakat.

  5. Kita menjelaskan keunggulan ideologi, konsep khilafah, dari starting point yg abstrak, smntara masy.mngharapkan contoh aplikasi yg nyata.

  6. Kita bangga akan keunggulan di dunia maya spiritual, masyarakat justru terpesona kepada yg unggul didunia empiris.

  7. Sadarkah, kita ketika kita menjelaskan kehebatan Islam dimasa lalu, masyarakat menyaksikan keterpurukan kita saat ini.

  8. Ketika kita berupaya menjelaskan kebenaran Islam, masyarakat justru menantikan kehebatan kaum Muslimin dlm berperan.

  9. Sementara kita menjelaskan teori, mereka kompetitor kita memahami teori lebih baik melalui contoh kasus.

  10. Mari pahami cermin realitas, kebanyakan org belajar scara visual, tp kita penggerak dakwah berkomunikasi secara abstrak ttg Islam.

  11. Itu hanya cth sederhana, tapi menjelaskan mengapa gerakan dakwah belum mampu membus pusaran logika massa,penetrasi jaringan pemikiran, sospol..

  12. Sudah seharusnya gerakan dakwah mampu mengubah, memobilisasi dan mengendalikan massa.

  13. Ditingkat opini publik, Islam dan gerakan dakwah dgn mudah diisolasi tanpa pembelaan spontanitas dr masyarakat.

  14. Masyarakat jg sptnya saat ini blm begitu percaya dgn kemampuan gerakan dakwah beserta para pemimpinnya mengelola negara.

  15. Potensi2 keunggulan kader islam memimpin negeri tak diragukan, banyak kader Islam yg unggul dan mampu mengelola system. tapi msh sgt kecil.

  16. Scara kseluruhan, Islam & gerakan dakwah belum memegang peranan kunci dlm pembentukan kesadaran publik. perlu kerja extra.

  17. Padahal pembentukan kesadaran publik trhdp Islam adlh kondisi pendahuluan yg mutlak dlm perjalanan menuju kekuasaan.

  18. Rendahnya tgkt penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita, sbenarnya adalah realitas yg berakar pd cara kita berpikir.

  19. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan potret realitas kita secara apa adanya.

  20. Pikiran adlh ruang kemungkinan (space of possibility) dan realitas adlh ruang tindakan yg telah jd nyata (space of action).

  21. Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin bsr ruang kemungkinannuya, makin besar ruang realitasnya

  22. Maka, realitas kita hari ini, sesungguhnya merupakan buah dari benih pikiran kita yang telah kita tanam bertahun2 yang lalu.

  23. Mencermati konflik dgn penguasa yg mewarnai gerakan dakwah, realitas berakar dr kumpulan persepsi harokah ttg penguasa sbg kumpulan thagut.

  24. Begitu persepsi 'thagut' ini menguasai pikiran harokah, sense of war lgsg menyalakan alarm perang ketika berhadapan dgn penguasa.

  25. Misalnya lagi, fenomena ekslusifnya aktifis dakwah. Fenomena ini berakar dr persepsi bhwa masyarakat kita hidup dlm kubangan jahiliyah modern.

  26. Begitu seseorang melekatkan diri sbg aktivis dakwah, sgera saja ia merasakan superioritas spiritual & moral, & menemukan tembok pemisah.

  27. Keterbatasan dana juga bagian dari ironi besar yang membatasi ruang gerak dakwah kita.

  28. Pikiran kita selalu terfokus pd bgmn menyiasati keterbatasn dana, bukan bgmn menciptakan kelimpahan.

  29. Jika #frame keterbatasan slalu menghiasi kehidupan dakwah kita, maka selamanya keterbatasan akan menjadi realitas kita.

  30. Maka kita perlu sepakat, bahwa tindakan kita muncul sbg buah dari benih2 pikiran kita.

  31. Jadi pikiran adlh pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan2 dan menciptakan realitas2 kita. Dakwah jg begitu.

  32. Sudah saatnya gerakan dakwah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yg slama ini dipikirkan.

  33. Generasi pertama pemikir dakwah spt Hasan Al Banna, Sayyid Qutb memfokuskan pd pembangunan ideologi..

  34. Generasi kedua spt Syeikh Yusuf Qardhawian Fathi Yakan dll memfokuskan perhatian membangun kerangka pemikiran pergerakan.

  35. Ketika gerakan dakwah masuk di era keterbukaan, bermain di domain publik, persoalan terbesar adalah sumber daya.

  36. Ini persoalan yang dihadapi hampir diseluruh gerakan Islam di dunia. Yang perlahan menunjukkan diri dr eksistensi pembelajaran.

  37. Dgn menggunakan cermin realitas, persoalan sumberdaya muncul krn pusat perhatian kita belum bergeser ke tema bsr generasi ke1 ke gnerasi ke-2.

  38. Kita mungkin masih fokus bicara ideologi, blm sumberdaya. Kita msh bcara sistem pemerintahan Islam, Khilafah, dsb. Tp tak bicara kompetensi umat.

  39. Kita bicara sistem Islam is solution, belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa.

  40. Kita masih bicara kegagalan musuh dan belum bicara kesuksesan2 kita secara keseluruhan.

  41. Dakwah Kita masih bicara ghawzul fikri dan belum bicara strategi kebudayaan.

  42. Dakwah kita masih bicara konspirasi asing dan belum memikirkan sistem pertahanan dakwah.

  43. Kita masih bicara ikhtilaf belum bicara management organisasi yang kokoh.

  44. Dakwah kita masih bicara kterbatasan dana, belum bicara cara menciptakan kelimpahan dana.

  45. Dan dakwah kita masih bicara apa yg kita inginkan dan belum bicara sumber daya yang diperlukan dlm mencapainya.

  46. Selama pusat perhatian kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya berkualitas, maka slama itu dakwah akan mengalami kemunduran.

  47. Ini hanya konsekuensi antara ketidakseimbangan, beban dan daya pikul. tampak tua & lelah, tertatih2 memikul beban obsesi khilafah yg terasa jauh.

  48. Kita patut bersyukur para pendiri ideologi dakwah telah meletakkan ideologi yang kokoh bagi umat.

  49. Mereka telah merampungkan tugas mereka dgn sempurna sbg batu tapal kokoh kebangkitan umat.

  50. Para pemikir pergerakan, juga telah membangun kerangka pemikiran gerakan bg pertumbuhan gerakan dakwah menuju kematangan.

  51. Generasi ke dua spt Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan jg telah menjalankan tugas dgn sempurna membangun kerangka pemikiran dan pertumbuhan.

  52. Nah, skrg tugas kita sbg generasi ketiga dakwah untuk membawa bendera, menunaikan tugas sejarah mereka. Generasi pencipta sumber daya.

  53. Biarlah ditangan kita kebenaran menjadi nyata, dibumi Allah kita menyatu dengan kekuatan membangun Islam.

  54. Sekian sarapan kultuit pagi ni. Mudah2n ghirah dakwah semakin memuncak, memberi harapan & masa depan cerah bagi umat khususnya Indonesia :)



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Catatan GAZA-2: Dari Kinanah ke Bumi Al Quran | Seri Perjalanan Salim A Fillah

Oleh Salim A. Fillah

“Dahulu kami meninggalkan Al Quran”; ujar seorang bapak dari keluarga Syamallekh di Masjid Syaikh ‘Ajleyn sebakda Shubuh ketika kami berhalaqah Quran; “Maka Allah pun mencampakkan kami dalam kehinaan di kaki penjajah Zionis. Kami terjajah, tertindas, & hancur; lalu mencoba mencari pegangan dalam gelap; harta, kedudukan, senjata. Tapi itu semua hanya membuat kami kian terpuruk. Kini kami kembali pada KitabuLlah; alhamduliLlah, kami bisa berdiri tegak, berwajah cerah, & bersemangat dalam perlawanan seperti kalian saksikan.”

Ya, kami memang menyaksikannya. Amat keliru jika membayangkan Gaza itu miskin, kumuh, sakit, sedih, & lesu. Yang kami saksikan di mana-mana sejak masuk dari Rafah adalah ketegaran, senyum yang mengembang, sambutan yang hangat; bahkan juga betapa rapi, bersih, hijau, jelitanya kawasan. Setidaknya bila dibandingkan tetangganya; Mesir si ibu peradaban.

Kami bersyukur memasuki Gaza ketika Presiden Mesir sudah bukan lagi Husni Mubarak. Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan katsira. Menurut seorang Relawan yang pernah masuk Gaza tahun lalu; betapa terhina kita di hadapan petugas imigrasi Mesir kala itu. Sepuluh pos pemeriksaan oleh tentara sejak dari jembatan Terusan Suez hingga gerbang Rafah sudah menyulitkan dengan berbagai tanya & penggeledahan; belum lagi wajah yang suram, jelek, & mengejek itu. Dan akhirnya; keleleran bagai pencari suaka dengan jam-jam menunggu yang tak jelas di tengah tatapan angkuh & melecehkan wajah-wajah yang seakan begitu asing dari wudhu’ & membenci semangat berkeshalihan.

Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan. Kini wajah tentara & petugas imigrasi berubah; bukan cuma cerah oleh wudhu’, sebagiannya malah berbekas sujud. Senyum bertebaran, dan ada yang berkata titip cinta untuk Gaza. Pos-pos pemeriksaan tentara tak lagi menghalangi; justru mereka menyediakan pengawalan 2 mobil patroli; yang meski justru agak memperlambat; tapi kami memahami maksud baiknya. Di gerbang imigrasi Mesirpun hanya soalan sederhana, “Sudah berkoordinasi dengan Gaza?” Saat dijawab ya; dia tersenyum dan membubuhkan capnya. Lega. AlhamduliLlah.

Maka dibanding Kairo yang hiruk pikuk, Gaza adalah kesyahduan. Dari Sinai yang gersang, Gaza adalah kesejukan. Alih-alih El ‘Arisy yang nyaman, Gaza adalah kemesraan. Sejak Rafah-Gush Katif-Khan Yunis-Deiril Balah-Gaza City-Jabaliya; yang tampak bukan keterjajahan melainkan perlawanan; bukan kesayuan namun kegairahan; bukan keputusasaan tapi cinta yang bermekaran. Di tanah istimewa ini lahir Al Imam Asy Syafi’i; mungkin di antara zaitun terbaik, anggur tersegar, farwalah yang manis & merah, serta angin Laut Tengah yang menderu gagah.

“Dulu kami meninggalkan Al Quran”, ujar si bapak dari keluarga Syamallekh itu. Perhatikan kembali kalimat-kalimatnya di awal tulisan ini yang mencerminkan pemahaman amat mendalam terhadap hakikat perjuangan. Apakah dia Syaikh, ‘Alim, Faqih? Bukan. Hanya seorang karyawan toko bersahaja. Bahkan bacaan Qurannya yang penuh semangat pun berulang-kali harus dibetulkan sebab terbiasa berdialek ‘ammiyah yang tak fasih. Tapi dari itu kita tahu; ideologi muqawamah telah tertanam ke segenap dada warga Gaza; pemimpin maupun jelata, kaya maupun papa, ‘ulama maupun biasa.


Dan kamipun menjumpai halaqah Quran itu di mana-mana; di tiap Masjid, sekolah, bahkan kantor, toko, & poliklinik. Di sebuah pusat layanan kanker yang sedang akan dikembangkan; ada ruangan penuh kanak-kanak. Bermuraja’ah dibimbing seorang perawat. Mas-ul Darul Quranil Karim, Syaikh Dr. ‘Abhdurrahman Jamal membawahi sebuah lembaga akbar yang mengelola tahfizh puluhan ribu orang; merawat hafalan; melaksanakan pengajian Tafsir, Sirah, & Hadits di berbagai Majelis; serta menyelenggarakan Daurah Shaifiyah yang alumninya kanak-kanak berhafizh lengkap dalam 2 bulan.

Apa pekerjaan utama para mujahid? Salah seorang komandan tempur berkata, “Mengaji! Kemudian mengaji! Kemudian mengaji!” Maka sungguh; senjata-senjata yang ditembakkan para pejuang Kataib ‘Izzuddin Al Qassam ke arah Zionis hanyalah kembang api perayaan dari sebuah kebangkitan yang telah tumbuh di dada orang-orang Gaza. Al Quran.

Gaza hari ini semarak oleh aneka gerai yang berebut perhatian; dari roti hingga mobil, dari es krim hingga meubel; tapi alhamduliLlah, keramaian terbesar tetap masjid-masjid kala shalat jama’ah dan halaqah Quran. Anak-anak kecil berlari di jalanan tanpa takut; cita-cita mereka semua sama & tak dapat ditawar; “Syahid fi sabiliLlah!” Bagaimana caranya? “Dengan Al Quran!”, jawab mereka. Sebab anggota Kataib ‘Izzuddin Al Qassam yang ribath di garis terdepan dipilih dari mereka yang paling mesra dengan Al Quran.

Ya Allah; jadikan kunjungan kami ke Gaza ini membuka pipa-pipa saluran keberkahan & kekudusan bumi serta penduduknya nan mulia ini untuk digerojokkan ke negeri kami. Mulia dengan Al Quran.


-to be continued-


*Catatan Gaza-1: Sang Perdana Menteri


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Kultwit ustadz @salimafillah tentang Natal





Oleh Salim A. Fillah
@salimafillah



1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an (kristolog Jogja -red); "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak."

2. Wasi'an: "Kalian mengimani Musa, juga 'Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda."

3. Wasi'an: "Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan."

4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82).

5. Tapi mungkin memang sudah tabiat 'aqidah, satu sama lain tak rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120).

6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: 8).

7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64).

8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6).

9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai 'Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.

10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.

11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?

12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & 'Isa yang tiada duanya.

13. Termuliakanlah 'Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59).

14. Termulialah 'Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)

15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai 'Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam.

16. #Natal ini, kalian rayakan kelahiran 'Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.

17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember.

18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.

19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul 'Azmi nan teguh hati; 'Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini.

20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan 'Son of God' sebagai 'Sun of God'.

21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya 'Isa, kawan terkasih.

22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.

23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di 'Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para 'ulama.

24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86)

25. Yang disepakati para 'ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.

26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para 'ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.

27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas 'aqidah.

28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da'wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)

29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang 'Ibrahim Mencari Tuhan', tapi 'Ibrahim Berda'wah', demikian ditegaskan Al Qurthuby.

30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.

31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.

32. Adapun Al 'Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA (Kerajaan Saudi Arabia), dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai 'aqidah keliru.

33. Jadi ikhtilaf 'Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.

34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.

35. Lajnah Fatwa KSA & Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.

36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi'i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.

37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.

38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.

39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll .

40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al 'Utsaimin pada posisi memelihara 'izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.

41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.

42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan 'ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini: http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari'at.

44. Sebab itu; para 'Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA' (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.

45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.

46. Demikian bincang Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama;)


*sumber: http://www.donasidakwah.com/2011/12/kultwit-ustadz-salim-fillah-tentang.html?m=1


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Minggu, 23 Desember 2012

Kepergian Dua Ummahat Senior Itu Mengejutkanku






Oleh : Cahyadi Takariawan



"....Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi".

Begitu BJ Habibie melukiskan kesedihan hatinya karena kematian Ainun, isteri tercinta. Kematian itu benar-benar memutuskan kebahagiaan dalam waktu sekejap. Habibi sangat sedih ditinggal Ainun, hatinya kosong seperti tak memiliki arti lagi.

Pagi tadi (senin 24/12/2012) saya menyaksikan tangis akhuna Abu Muhammad di depan jenazah isteri dan bayinya yang meninggal dalam kandungan. Isteri tercinta, ukhti Rabi'atul Adawiyah dipanggil Allah tadi pagi, Senin 24/12 jam 02.00 WITA dini hari, setelah melahirkan anak ke-9 di rumah sakit.

Bersama ikhwah Balikpapan dan masyarakat sekitar yang memenuhi masjid, kami melaksanakan shalat jenazah. Suasana sangat khusyu, hening dan haru saat mengurus jenazah ukhti Rabi'ah dan bayinya.

Kami semua menangis penuh keharuan. Air mata saya deras mengucur membasahi pipi dan baju, mendengar kesaksian suaminya tentang almarhumah isterinya.

Seorang ummahat yang luar biasa tegar, luar biasa berbakti kepada suami, luar biasa aktivitasnya dalam dakwah, luar biasa semangat dalam melaksanakan amanah dari jamaah, dan akhirnya wafat menjadi syahadah.

Hari Kamis beliau masih hadir acara nadwah kaderisasi DPD PKS Kota Balikpapan, sendiri, tidak diantar suami. Itu kebiasaannya. Tidak ingin merepotkan suami yang sangat sibuk selaku aktivis dakwah. Dalam kondisi hamil tua, hari Jumat masih juga berangkat mengikuti In'asy Kaderisasi se DPW PKS Kaltim di Kota Balikpapan. Namun sore harinya ia merasa ada gejala hendak melahirkan, maka minta izin untuk periksa ke rumah sakit.

"Umi masih bisa periksa sendiri. Abi ikut acara In'asy saja", katanya. Luar biasa.

Namun ternyata bayinya sudah meninggal dalam kandungan. Beratnya persalinan bayi kesembilan, pada usia yang sudah tidak muda lagi, 42 tahun, membuat resiko tersendiri. Kandungannya pecah dan mengalami pendarahan hebat, hingga ukhti Rabi'ah koma, tidak sadarkan diri.

Suami dan tujuh ananda (satu anak sudah menghadap Allah), sangat mencintai ukhti Rabi'ah, namun Allah telah memilihnya. Memilih ukhti Rabi'ah sebagai syahid yang kelak akan mendapat surga-Nya. Tadi pagi dini hari Allah berkenan memanggilnya, setelah ukhti Rabi'ah mengalami koma beberapa lamanya.

"Dia isteri yang sangat baik, sangat sayang suami dan anak-anak, tidak ingin merepotkan suami, dan sangat aktif dalam kegiatan dakwah. Saya sangat bersyukur memiliki isteri dia", ungkap sang suami di sela tangis keharuan.

Ikhwah Balikpapan pantas berduka. Semua wajah tampak mendung hari ini. Apalagi bagi para umahat yang satu halaqah  dengan beliau. Sangat bersedih.

Betapa tidak, dalam satu bulan ini Allah telah memanggil dua ummahat sekaligus dari satu forum halaqah tarbawiyah  Kota Balikpapan.

Allah telah memanggil ukhti Dinna Yanvia pada tanggal 13 Desember lalu di Rumah Sakit, karena mengalami sakit yang baru diketahui saat itu juga. Ukhti Dinna adalah sekretaris Kelemsos DPW PKS Kaltim. Beliau seorang aktivis dakwah yang sangat bersemangat melaksanakan aktivitas dakwah. Ukhti Dinna meninggalkan suami dan empat anak tercinta.

Belum lagi airmata ikhwah Balikpapan mengering, tadi pagi Allah memanggil ukhti Rabi'atul Adawiyah (42 th), staf Kaderisasi DPD PKS Kota Balikpapan. Rahimnya pecah setelah melahirkan anak ke sembilan.

Saya menyaksikan tangis yang mengharukan. Akhi Abu Muhammad menangis di depan almarhumah disaksikan jamaah shalat jenazah yang meluber hingga keluar masjid.

Seorang anak lelakinya tampak menangis tiada henti di samping jenazah umminya tercinta. Sementara keenam anak lainnya menangis melepas kepergian ummi mereka dari dalam rumah duka.

Sungguh kematian adalah sesuatu yang tiba-tiba di mata manusia, kendati sudah ditetapkan olehNya. Kematian telah memutus kebahagian suami dan anak-anak yang ditinggalkan, kendati ukhti Rabi'ah tersenyum bahagia menghadap Kekasih sejatinya, Allah Azza wa Jalla.

Saya bersyukur masih diberi sisa usia, entah masih berapa lama. Saya melepas jenazah almarhumah yang dibawa ambulance menuju Samarinda. Tangis saya masih membasahi mata.

Duapuluh mobil ikhwah mengiring almarhumah menuju tempat peristirahatan terakhir, di Samarinda. Saya menghantar dengan doa, hingga rombongan mobil tidak tampak dari pandangan mata.

Saya lebih tersadarkan, masih ada sisa usia untuk membahagiakan isteri dan anak-anak tercinta. Masih ada kesempatan untuk membersamai keluarga dalam suka dan duka dalam meraih ridha-Nya.

Saya bayangkan, akhuna Abu Muhammad yang sudah tidak memiliki waktu lagi untuk menemani dan membahagiakan isteri. Kini ia harus berjalan sendiri menapaki hari-hari, mendidik dan membesarkan buah hati tanpa didampingi bidadari yang telah memberinya tujuh putra dan putri. ***

(alm) Rabi'atul Adawiyah dan putranya


*Bandara Sepinggan, 24 Desember 2012, sepulang takziyah.


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia