Tampilkan postingan dengan label Kolom Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Kepergian Dua Ummahat Senior Itu Mengejutkanku






Oleh : Cahyadi Takariawan



"....Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi".

Begitu BJ Habibie melukiskan kesedihan hatinya karena kematian Ainun, isteri tercinta. Kematian itu benar-benar memutuskan kebahagiaan dalam waktu sekejap. Habibi sangat sedih ditinggal Ainun, hatinya kosong seperti tak memiliki arti lagi.

Pagi tadi (senin 24/12/2012) saya menyaksikan tangis akhuna Abu Muhammad di depan jenazah isteri dan bayinya yang meninggal dalam kandungan. Isteri tercinta, ukhti Rabi'atul Adawiyah dipanggil Allah tadi pagi, Senin 24/12 jam 02.00 WITA dini hari, setelah melahirkan anak ke-9 di rumah sakit.

Bersama ikhwah Balikpapan dan masyarakat sekitar yang memenuhi masjid, kami melaksanakan shalat jenazah. Suasana sangat khusyu, hening dan haru saat mengurus jenazah ukhti Rabi'ah dan bayinya.

Kami semua menangis penuh keharuan. Air mata saya deras mengucur membasahi pipi dan baju, mendengar kesaksian suaminya tentang almarhumah isterinya.

Seorang ummahat yang luar biasa tegar, luar biasa berbakti kepada suami, luar biasa aktivitasnya dalam dakwah, luar biasa semangat dalam melaksanakan amanah dari jamaah, dan akhirnya wafat menjadi syahadah.

Hari Kamis beliau masih hadir acara nadwah kaderisasi DPD PKS Kota Balikpapan, sendiri, tidak diantar suami. Itu kebiasaannya. Tidak ingin merepotkan suami yang sangat sibuk selaku aktivis dakwah. Dalam kondisi hamil tua, hari Jumat masih juga berangkat mengikuti In'asy Kaderisasi se DPW PKS Kaltim di Kota Balikpapan. Namun sore harinya ia merasa ada gejala hendak melahirkan, maka minta izin untuk periksa ke rumah sakit.

"Umi masih bisa periksa sendiri. Abi ikut acara In'asy saja", katanya. Luar biasa.

Namun ternyata bayinya sudah meninggal dalam kandungan. Beratnya persalinan bayi kesembilan, pada usia yang sudah tidak muda lagi, 42 tahun, membuat resiko tersendiri. Kandungannya pecah dan mengalami pendarahan hebat, hingga ukhti Rabi'ah koma, tidak sadarkan diri.

Suami dan tujuh ananda (satu anak sudah menghadap Allah), sangat mencintai ukhti Rabi'ah, namun Allah telah memilihnya. Memilih ukhti Rabi'ah sebagai syahid yang kelak akan mendapat surga-Nya. Tadi pagi dini hari Allah berkenan memanggilnya, setelah ukhti Rabi'ah mengalami koma beberapa lamanya.

"Dia isteri yang sangat baik, sangat sayang suami dan anak-anak, tidak ingin merepotkan suami, dan sangat aktif dalam kegiatan dakwah. Saya sangat bersyukur memiliki isteri dia", ungkap sang suami di sela tangis keharuan.

Ikhwah Balikpapan pantas berduka. Semua wajah tampak mendung hari ini. Apalagi bagi para umahat yang satu halaqah  dengan beliau. Sangat bersedih.

Betapa tidak, dalam satu bulan ini Allah telah memanggil dua ummahat sekaligus dari satu forum halaqah tarbawiyah  Kota Balikpapan.

Allah telah memanggil ukhti Dinna Yanvia pada tanggal 13 Desember lalu di Rumah Sakit, karena mengalami sakit yang baru diketahui saat itu juga. Ukhti Dinna adalah sekretaris Kelemsos DPW PKS Kaltim. Beliau seorang aktivis dakwah yang sangat bersemangat melaksanakan aktivitas dakwah. Ukhti Dinna meninggalkan suami dan empat anak tercinta.

Belum lagi airmata ikhwah Balikpapan mengering, tadi pagi Allah memanggil ukhti Rabi'atul Adawiyah (42 th), staf Kaderisasi DPD PKS Kota Balikpapan. Rahimnya pecah setelah melahirkan anak ke sembilan.

Saya menyaksikan tangis yang mengharukan. Akhi Abu Muhammad menangis di depan almarhumah disaksikan jamaah shalat jenazah yang meluber hingga keluar masjid.

Seorang anak lelakinya tampak menangis tiada henti di samping jenazah umminya tercinta. Sementara keenam anak lainnya menangis melepas kepergian ummi mereka dari dalam rumah duka.

Sungguh kematian adalah sesuatu yang tiba-tiba di mata manusia, kendati sudah ditetapkan olehNya. Kematian telah memutus kebahagian suami dan anak-anak yang ditinggalkan, kendati ukhti Rabi'ah tersenyum bahagia menghadap Kekasih sejatinya, Allah Azza wa Jalla.

Saya bersyukur masih diberi sisa usia, entah masih berapa lama. Saya melepas jenazah almarhumah yang dibawa ambulance menuju Samarinda. Tangis saya masih membasahi mata.

Duapuluh mobil ikhwah mengiring almarhumah menuju tempat peristirahatan terakhir, di Samarinda. Saya menghantar dengan doa, hingga rombongan mobil tidak tampak dari pandangan mata.

Saya lebih tersadarkan, masih ada sisa usia untuk membahagiakan isteri dan anak-anak tercinta. Masih ada kesempatan untuk membersamai keluarga dalam suka dan duka dalam meraih ridha-Nya.

Saya bayangkan, akhuna Abu Muhammad yang sudah tidak memiliki waktu lagi untuk menemani dan membahagiakan isteri. Kini ia harus berjalan sendiri menapaki hari-hari, mendidik dan membesarkan buah hati tanpa didampingi bidadari yang telah memberinya tujuh putra dan putri. ***

(alm) Rabi'atul Adawiyah dan putranya


*Bandara Sepinggan, 24 Desember 2012, sepulang takziyah.


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Senin, 10 September 2012

Kemantapan Da'i Menghadapi Situasi Sulit, Rumit dan Tak Sesuai Harapan

Oleh Cahyadi Takariawan

Dalam realitas medan dakwah, setiap aktivis akan berhadapan dengan berbagai macam kondisi dan situasi yang tidak semuanya sesuai dengan yang diharapkan. Saat menunaikan amanah dakwah, kader harus menghadapi situasi yang sulit bahkan rumit. Secara manusiawi, bisa muncul perasaan khawatir –bahkan takut—ketika menghadapi resiko atau situasi yang tidak dikehendaki.

Perasaan takut atau khawatir yang muncul pada diri aktivis dakwah adalah sesuatu yang bersifat manusiawi, namun harus mampu dikendalikan dan dikuasai agar tidak menghalangi penunaian amanah dakwah. Perasaan seperti itu pernah dimiliki pula oleh Nabi yang sangat kuat dan perkasa, Musa As. Perhatikan ungkapan ayat-ayat berikut :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)” (Asy Syu-ara’ : 10 – 15)

Dalam ayat-ayat di atas, Musa merasa takut atau khawatir bahwa dirinya akan didustakan bahkan dibunuh. Musa mengatakan dia berdosa terhadap orang-orang Mesir (walahum ‘alayya dzanbun) adalah menurut anggapan orang-orang Mesir itu, karena sebenarnya Musa tidak berdosa sebab dia membunuh orang Mesir itu tidak dengan sengaja. Selanjutnya bisa dilihat pada surat Al Qashash ayat 15.

Beberapa pelajaran Fiqih Dakwah yang bisa diambil dari rangkaian ayat-ayat di atas antara lain:

1. Nabi Musa pun memiliki perasaan takut atau khawatir dalam menunaikan amanah dakwah

Perhatikan curhat Nabi Musa kepada Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku”. Dalam penggalan ayat berikutnya, Nabi Musa mengatakan, “…maka aku takut mereka akan membunuhku”.

Nabi yang dikisahkan memiliki fisik yang kuat, memiliki kekuatan yang hebat, namun masih memiliki perasaan khawatir atau takut ketika hendak menjalankan perintah dari Allah. Sesungguhnya perasaan seperti ini memang sangat manusiawi, namun tidak boleh digunakan sebagai pembenar untuk tidak melaksanakan tugas dakwah. Perasaan khawatir dan takut itu harus segera diatasi dan dikuasai agar tidak melalaikan amanah dakwah.

2. Nabi Musa mampu menguasai perasaan takut dalam dirinya

Kendati Nabi Musa menyatakan perasaan takut dan khawatir, namun tidak ada ungkapan permakluman atau meminta izin kepada Allah agar diberikan keringanan untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Kadang dijumpai sebagian aktivis menolak melaksanakan suatu amanah dakwah, hanya dengan pertimbangan perasaan takut dan khawatir. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena berarti sang aktivis tidak mampu menguasai perasaannya.

Justru Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberi teman, yaitu Harun, untuk bersama-sama menunaikan perintah Allah. Artinya, perasaan takut dan khawatir dalam dirinya tidak dibiarkan berkembang menjadi sifat pembangkangan dan penolakan terhadap perintah Allah. Sudah selayaknya para aktivis dakwah mengambil pelajaran penting dari sikap Nabi Musa ini. Tidak pantas bagi aktivis dakwah untuk mengelak dari amanah dakwah hanya karena pertimbangan ketakutan atau kekhawatiran.

Perasaan semacam itu wajar dan manusiawi, namun harus dikuasai dan diarahkan agar tidak menyebabkan lalai dari amanah dakwah.

3. Pentingnya teman yang menguatkan pelaksanaan amanah dakwah

Ketika Nabi Musa mendapatkan perintah untuk menghadapi Fir’aun sendirian, terbayang betapa kesulitan akan menghadang dirinya yang memiliki keterbatasan. Ungkapan Nabi Musa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku” menandakan kekhawatiran Nabi Musa bahwa dirinya akan didera emosi atas pengingkaran Fir’aun, sehingga membuat Musa tidak lancar berkomunikasi menyampaikan peringatan kepadanya.

Selanjutnya Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberikan teman untuk menunaikan perintah Allah tersebut sehingga bisa lebih tenang. Ungkapan Nabi Musa “…..maka utuslah (Jibril) kepada Harun…” maksudnya agar Harun diangkat menjadi Rasul untuk membersamainya dalam menunaikan perintah Allah. Ini memberikan pelajaran tentang pentingnya teman dan kebersamaan yang akan menguatkan pelaksanaan amanah dakwah.

4. Pentingnya pendekatan kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan jiwa

Ketika menghadapi perasaan yang takut dan khawatir menghadapi Fir’aun dan kaumnya, Nabi Musa segera memohon kekuatan kepada Allah. Munajat dan pendekatan kepada Allah sangat penting dilakukan setiap saat oleh para aktivis dakwah, karena hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Seluruh makhluk adalah lemah, hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak terbatas dan tidak tertandingi.

Mendekat kepada Allah akan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran. Untuk itu para aktivis dakwah harus memiliki aktivitas ruhaniyah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah memberikan kekuatan, kemampuan dan kelancaran dalam menjalankan amanah dakwah. Suksesnya dakwah bukan semata ditentukan oleh kehebatan sang aktivis, namun yang menentukan kesuksesan hanyal Allah Ta’ala.[]

*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2711


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Kamis, 06 September 2012

Peduli Terhadap Perubahan Dunia & Lingkungan Strategis | Seri Fiqih Da'wah


Oleh Cahyadi Takariawan

Dinamika lingkungan strategis baik dalam skala internasional, regional maupun nasional dan lokal, selalu membawa implikasi –baik positif maupun negatif– yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap gerakan dakwah. Implikasi positif membawa manfaat dalam mendukung tercapainya tujuan dan kepentingan dakwah, sedangkan implikasi negatif berupa meningkatnya potensi ancaman bagi dakwah.

Situasi dan kecenderungan lingkungan strategis pada awal abad 21 sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan periode satu dekade terakhir dalam abad 20. Situasi politik internasional saat ini –selain masih diwarnai oleh permasalahan lama yang belum berhasil diatasi—menjadi semakin bertambah kompleks dengan hadirnya serangkaian masalah baru. Disamping itu, kecenderungan lingkungan strategis sulit diperkirakan karena ketidakteraturan dan ketidakstabilan semakin menjadi corak dominan.

Dinamika politik dan keamanan internasional semakin intens karena dibawah pengaruh fenomena globalisasi dan berbagai implikasinya, negara-negara di dunia dituntut untuk saling bekerjasama, namun pada sisi lain persaingan antarnegara dalam melindungi kepentingan nasional juga semakin meningkat. Interdependensi antarnegara semakin menguat, tetapi pada saat yang bersamaan kesenjangan power ekonomi dan militer semakin melebar karena agenda dan isu internasional masih dominan dipengaruhi oleh agenda dan kebijakan negara-negara maju.

Keseluruhan dinamika lingkungan strategis tersebut dipastikan memberikan dampak bagi aktivitas dakwah. Untuk itu, diperlukan telaah kecenderungan lingkungan strategis global, regional dan nasional, bagi proses perencanaan strategis dakwah dalam berbagai bidang. Ternyata, Al Qur’an telah memberikan arahan kepada kita untuk memiliki perhatian terhadap dinamika lingkungan strategis tersebut, sebagaimana tampak dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini:

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“ (QS. Ar Rum : 1 – 6).

Ayat-ayat di atas memberikan berbagai pelajaran Fiqih Dakwah yang sangat penting bagi kita, di antaranya adalah :

1. Pentingnya perhatian dan kepedulian terhadap dinamika lingkungan strategis

Al Qur’an memberikan perhatian terhadap bangsa Rumawi, berikut kondisi-kondisi yang mereka hadapi. Ada kisah kekalahan Rumawi, namun sekaligus kisah kemenangan mereka. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi gerakan dakwah, agar selalu memiliki perhatian dan kepedulian terhadap dinamika lingkungan strategis yang ada di sekitarnya.

Gerakan dakwah harus selalu mengikuti perkembangan kondisi negara dan bangsa di sekitarnya, karena dalam situasi global seperti sekarang ini semua pihak saling memberikan pengaruh. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita sudah memasuki masa dimana semua serba terhubung dengan sangat mudah. Teknologi informasi dan komunikasi telah membuat dunia terhubung dan terjalin, semua bisa tampak dan transparan. Maka siapa yang lebih peka dan cermat, ia yang akan menang dalam mengambil informasi yang diperlukan.

Gerakan dakwah selalu diamati dan dicermati oleh negara-negara yang memiliki kepentingan atasnya, maka gerakan dakwah pun harus selalu mencermati perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan berbagai negara. Dengan demikian dakwah akan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan dinamika yang terjadi, sebatas keperluan yang harus dilakukan.

2. Kepedulian dakwah bukan terbatas pada komunitas Islam, namun terhadap seluruh komunitas yang ada di dunia

Sebagaimana diketahui, bangsa Rumawi bukan muslim. Namun Al Qur’an memberikan perhatian terhadap bangsa Rumawi. Dalam suasana tidak memiliki sarana komunikasi dan informasi yang memadai, Nabi Saw memiliki perhatian terhadap perkembangan yang ada di bangsa Rumawi. Hal ini menandakan, kepedulian beliau tidak terbatas kepada komunitas Islam saja, namun beliau memberikan kepedulian terhadap berbagai komunitas yang ada.

Bentuk kepedulian itu tampak dalam ungkapan ayat, “Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah”. Orang-orang beriman ikut merasakan kegembiraan pada saat terjadinya kemenangan bangsa Rumawi. Ini menandakan adanya bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa lain yang berpengaruh terhadap perkembangan dakwah, walaupun mereka bukan Islam.

Untuk itulah, gerakan dakwah harus memberikan perhatian, kepedulian, dan suara terhadap berbagai peristiwa di dunia yang berupa kezaliman, ketidakadilan, penjajahan, penindasan dan lain sebagainya. Dimanapun kezaliman terjadi, disitulah gerakan dakwah harus ikut terlibat memberikan solusi, walaupun hanya melalui dukungan media ataupun dukungan politik.

3. Aktivis dakwah harus selalu peka dan cermat terhadap perkembangan lingkungan strategis

Setiap aktivis dakwah harus memiliki kepekaan terhadap perkembangan lingkungan strategis. Untuk itu aktivis dakwah tidak boleh asing dengan teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai berita dunia, lingkup regional Asia, maupun nasional Indonesia dan perkembangan lokal di daerah masing-masing, harus selalu diikuti dengan cermat. Berbagai peristiwa dan kejadian yang ada di berbagai belahan dunia dan di sekitarnya, harus selalu mendapatkan perhatian.

Dinamika lingkungan strategis kemudian dianalisa bersama, karena satu kejadian atau peristiwa bisa dimaknai dengan berbagai cara, tergantung metoda anlisa yang digunakannya. Untuk itu setelah pengumpulan data dan fakta terhadap realitas perubahan lingkungan, segera dilakukan studi dan analisa untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat perencanaan dan pengamanan dakwah.

4. Pentingnya analisis kecenderungan perubahan lingkungan bagi kepentingan dakwah

Ungkapan ayat di atas menandakan pentingnya suatu analisa dan studi terhadap berbagai perkembangan dan dinamika lingkungan strategis. “Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)”.

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki modal sangat besar, baik sumber daya alam, letak geografis yang strategis, struktur demografis penduduk, sumber daya kultural yang beragam dan kuat, dan sumber daya manusia yang memiliki potensi dan kreativitas yang sangat lengkap. Demografi Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan golongan, dengan penduduk berjumlah 237.556.363 orang[2]. Secara kuantitas dan kualitas, penduduk Indonesia merupakan sumber daya potensial yang dapat diberdayakan dalam berbagai strata dan profesi.

Sumber kekayaan alam Indonesia sangat lengkap, memiliki keragaman hayati, nabati dan mineral. Luas laut yang mendominasi dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kandungan yang tak ternilai bagi kemakmuran bangsa. Ini semua tentu akan menjadi perhatian negara-negara maju yang berkepentingan terhadap wilayah Indonesia. Melihat itu semua, pastilah semua bangsa mengakui bahwa Indonesia itu penting bagi dunia.

Untuk itu, sangat penting melakukan analisis kecenderungan perubahan lingkungan strategis yang akan memberikan dampak langsung bagi aktivitas dakwah. Gerakan dakwah tidak boleh membiarkan terjadinya konspirasi berbagai negara yang bermaksud mengeruk kekayaan alam Indonesia yang luar biasa banyak dan lengkapnya. Tugas dakwah untuk selalu menjaga keutuhan wilayah NKRI beserta seluruh kekayaan yang ada di dalamnya, guna kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Wallahu a’lam.



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Dakwah Harus Mampu Memberikan Alternatif

Oleh Cahyadi Takariawan

Dalam kehidupan keseharian, kita sering menyaksikan berbagai hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keimanan. Banyak kerusakan, penyimpangan, kejahatan yang terjadi setiap hari di depan mata kita. Sebagai aktivis dakwah, kita sangat ingin mengubah seluruh kondisi yang tidak baik dan menyimpang tersebut, dan mengarahkan kepada nilai-nilai keimanan dan kesalihan.

Namun persoalan dakwah bukan semata-mata bagaimana menghilangkan kemaksiatan atau bagaimana menghapuskan kemunkaran. Lebih dari itu, yang harus diusahakan dalam proses dakwah adalah menghadirkan alternatif yang lebih baik dan lebih layak bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kemanfaatan dan kontribusi dari dakwah bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Aktivis dakwah tidak hanya bisa melarang dan mencegah, namun juga bisa memberikan alternatif solusi.

Banyak orang berkubang dalam kehidupan yang buruk karena keterpaksaan keadaan. Mereka memerlukan solusi nyata untuk keluar dari keburukan tersebut, bukan semata-mata dilarang dan –apalagi—dimarahi dan dilecehkan, namun tanpa ada solusi yang berarti. Masyarakat memerlukan solusi agar mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih sesuai nilai-nilai keimanan.

Misalnya, masih banyak warga masyarakat yang menganggur, tidak memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan penghidupan. Karena harus menghidupi anak isteri, akhirnya mereka berpikir jalan pintas, bagaimana bisa mendapatkan uang untuk makan dan menyambung hidup. Sebagian dari mereka memilih menjadi pengemis, meminta-minta dari rumah ke rumah, atau di pinggiran jalan. Sebagian yang lain memilih menjadi pemulung, pengamen, pengasong dan lain sebagainya.

Namun ada pula yang memilih jalan sangat pintas, dengan mencuri, merampok, merampas harta orang lain, di kereta api, di bus kota, di terminal, di pasar, supermarket dan lain sebagainya. Mereka ini “melegalkan diri” melakukan perbuatan tercela itu dengan alasan keterpaksaan kondisi, dan karena ada contoh banyaknya pejabat yang korupsi, padahal hidup mereka berkecukupan.

Yang diperlukan bukan sekedar melarang mengamen, melarang mengemis, melarang mencuri, dan lain sebagainya. Namun diperlukan langkah yang lebih nyata, yaitu memberikan alternatif pekerjaan yang halal dan bisa membuat mereka hidup layak. Inilah dakwah yang akan memberikan solusi bagi berbagai kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Bukan dakwah yang berhenti pada melarang, mencegah, dan menyuruh berbuat baik, namun tidak disertai solusi jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Dakwah harus mampu menghadirkan alternatif penyelesaian permasalahan masyarakat, bangsa dan negara.

Perhatikan kisah Nabi Nuh berikut:

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal” (DS. Hud : 78).

Ayat di atas memberikan beberapa pelajaran fiqih dakwah sebagai berikut:

1. Kerusakan selalu ada di tengah masyarakat

Realitas adanya kerusakan atau penyimpangan adalah sesuatu yang menyejarah. Sejak zaman dulu sudah ada, dan akan selalu ada. Di zaman Nabi Luth, masyarakat melakukan penyimpangan seksual yang serius. Digambarkan, kerusakan tersebut bukan hanya terjadi pada masa itu, namun sudah terjadi dalam kurun waktu yang lama. “Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji“.

Itulah sebabnya, dakwah tidak pernah selesai. Karena selalu saja ada kerusakan, selalu saja ada penyimpangan yang harus diluruskan dan diperbaiki. Para aktivis dakwah tidak boleh berputus asa melihat banyaknya kemungkaran dan kerusakan yang terjadi di sekitarnya. Merasa sia-sia melakukan dakwah, karena usaha memperbaiki keadaan sudah dilakukan, namun serasa tidak ada perbaikan. Aktivis dakwah harus selalu bersemangat dan bergairah dalam menjalankan amanah dakwah, walau kerusakan selalu datang silih berganti.

2. Dakwah bukan hanya melarang, namun memberikan alternatif solusi

Ketika dakwah dihadirkan di tengah masyarakat hanya dalam bentuk melarang dan mencegah, maka akan muncul kesan bahwa dakwah tidak memiliki kemampuan kecuali sekedar melarang. Padahal masyarakat memerlukan solusi yang kongkrit atas berbagai persoalan yang mereka hadapi. Jika masyarakat selalu bertemu dengan larangan tanpa ada alternatif solusi, maka dakwah tidak mampu membawa perubahan seperti yang diharapkan.

Nabi Nuh melarang kaumnya melakukan perbuatan keji, namun sekaligus memberikan alternatif solusi yang sehat bagi mereka. “Luth berkata: Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal”.

Sebagian mufasir menjelaskan, bahwa yang dilakukan oleh Nabi Luth adalah menawarkan pernikahan yang sah dengan puteri-puteri yang ada di negeri itu sendiri. Namun sebagian mufasir menjelaskan, bahwa yang ditawarkan oleh Nabi Luth kepada kaumnya itu benar-benar puteri beliau sendiri. Ini adalah sebuah alternatif solusi yang kongkrit yang ditawarkan oleh nabi Luth kepada kaumnya.

3. Gerakan dakwah harus berusaha mencari berbagai alternatif penyelesaian masalah kehidupan

Sangat banyak persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gerakan dakwah bersama para aktivisnya, harus selalu berusaha mencari dan menemukan berbagai alternatif penyelesaian persoalan kehidupan tersebut. Inilah pekerjaan yang sangat besar bagi gerakan dakwah. Masyarakat, bangsa dan negara memerlukan alternatif solusi bagi setiap persoalan klehidupan yang mereka hadapi.

Sering kita mendapati orang-orang yang mengkritik, mencela, dan mencaci maki suatu kondisi yang menyimpang dalam kehidupan, namun hanya berhenti pada kritikan, celaan dan caci maki saja. Tidak memberikan alternatif solusi. Maka tidak akan ada perubahan yang berarti jika tidak bisa menghadirkan solusi. Dakwah bukan hanya berhenti pada melarang, namun harus memberikan berbagai alternatif solusi.

4. Perbaikan harus disertai jalan keluar

Berbagai upaya perbaikan kondisi masyarakat, bangsa dan negara, harus disertai dengan jalan keluar. Perhatikan persoalan masyarakat di sekitar anda. Ketika anda menjumpai permasalahan yang ingin anda perbaiki, maka cara melakukan perbaikan adalah dengan memberikan jalan keluar yang nyata bagi mereka. Mungkin saja anda belum mampu memberikan jalan keluar dengan segera, namun harus ada upaya yang bersungguh-sungguh untuk memberikan alternatif solusi.

Perbaikan tidak akan terjadi jika tidak ada solusi. Itulah sebabnya, gerakan dakwah harus bersungguh-sungguh mencari dan menemukan jalan keluar atas setiap persoalan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar terjadi perubahan dan perbaikan.[]



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Rabu, 05 September 2012

Keluarga Besar Sebagai Penguat Dakwah

Oleh Cahyadi Takariawan

Aktivitas dakwah tidak pernah sepi dari hambatan, ancaman, gangguan dan tantangan. Ini sudah menjadi kodrat dan watak dari dakwah. Oleh karena itu, para aktivis harus selalu berusaha untuk menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi di sepanjang aktivitas dakwah.

Upaya persiapan menghadapi gangguan dalam dakwah ini bisa dilakukan oleh para aktivis dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya, maupun memanfaatkan berbagai potensi yang ada di sekitarnya. Salah satu potensi yang bisa digunakan untuk menguatkan dakwah adalah jaringan kekeluargaan, kekerabatan, kesukuan dan kedaerahan. Jaringan semacam ini jika dimanfaatkan untuk hal yang positif, akan memberikan dampak dan hasil yang positif pula.

Di Indonesia, jaringan kekeluargaan dan kedaerahan ini sangat kuat. Fenomena mudik yang selalu kita jumpai pada akhir Ramadhan dan awal Syawal, adalah bukti nyata betapa kuat ikatan kekeluargaan dan kedaerahan. Masyarakat rela menempuh perjalanan panjang dan beresiko, agar bisa bertemu dan berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar (trah), kerabat, handai taulan dan tetangga di kampung halaman asal. Jika ikatan ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, maka akan memberikan kontribusi yang positif pula dalam dakwah.

Di berbagai daerah di Indonesia, ada ikatan keluarga atau trah yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat. Secara turun temurun, trah tersebut mendapatkan pengormatan karena jasa-jasa para pendahulu mereka yang memiliki jasa besar bagi masyarakat sekitar, atau karena dikenal sebagai keluarga kaya yang dermawan dan suka menolong kesulitan orang-orang lemah dan miskin. Trah seperti ini dihormati dan disegani oleh masyarakat, lebih dari trah yang lain.

Jika aktivis dakwah mampu memanfaatkan ikatan kekeluargaan atau ikatan kedaerahan menjadi penguat dakwah, hal itu akan sangat memberikan kontribusi yang besar dan efektif bagi perkembangan dakwah di wilayahnya. Kadang ditemukan hambatan dakwah yang bersal dari ketokohan seseorang senior di sebuah wilayah. Sang tokoh merasa terganggu oleh karena dakwah yang dilakukan oleh anak-anak muda yang dianggapnya “bau kencur” atau dianggap “anak kemarin sore”. Hambatan seperti ini salah satunya bisa dihadapi dengan nama besar keluarga sang aktivis.

Perhatikan beberapa arahan Al Qur’an dalam ayat-ayat berikut:

“Luth berkata: Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)” (QS. Hud : 80).

“Mereka berkata : Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami” (QS. Hud : 91).

Pada ayat yang pertama, kisah dakwah Nabi Luth yang merasakan tekanan demikian berat dari kaumnya, namun Nabi Luth tidak memiliki potensi yang cukup untuk menghadapinya. Sedangkan pada ayat kedua, Nabi Syu’aib mendapatkan tantangan dari kaumnya, namun terlindungi karena faktor keluarga besar Nabi Syu’aib.

Beberapa pelajaran fiqih dakwah yang bisa kita ambil dari dua ayat di atas adalah :

1. Pentingnya memiliki ikatan kekeluargaan yang kokoh

Dalam ayat pertama di atas, tampak Nabi Luth tengah mengandaikan memiliki pelindung dari kalangan keluarga. “Luth berkata: Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat”. Dalam kesendiriannya menghadapi gangguan kaum yang durhaka, Nabi Luth merasakan urgensi untuk memiliki ikatan kekeluargaan yang kokoh, yang dapat membantu beliau menghadapi tantangan dakwah.

Oleh karena itu, para aktivis dakwah hendaknya memiliki ikatan kekeluargaan yang kokoh. Jangan sampai aktivis dakwah memisahkan diri dari ikatan kekeluargaan besar yang dimilikinya. Dukungan keluarga ini dirasakan kemanfaatannya oleh Nabi Syu’aib yang menjadi terlindungi dari gangguan kaumnya, karena kaum tersebut merasa segan kepada keluarga besar Nabi Syu’aib.

2. Dakwah bisa dikuatkan oleh ikatan kekeluargaan

Dakwah bisa dikuatkan oleh banyak potensi, salah satunya adalah potensi kekeluargaan. Sebagian kalangan aktivis menganggap perlindungan dakwah sudah cukup dengan payung hukum dan undang-undang, padahal dalam kenyatannya dakwah di tengah masyarakat sangat memerlukan bentuk perlindungan lain yang lebih praktis dan teknis. Masyarakat akan memberikan apresiasi bagi dakwah yang dibawa oleh seorang aktivis, salah satunya karena pertimbangan keluarga.

Kaum Nabi Syu’aib memberikan kesaksian tentang hal ini, “…kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”. Sangat jelas bahwa dakwah bisa dilindungi dan dikuatkan oleh ikatan kekeluargaan yang kokoh.

3. Aktivis dakwah harus berusaha mencari sumber kekuatan bagi dakwah

Dakwah memerlukan banyak sarana untuk mendukung kelancarannya dan menguatkan perannya di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sarana-sarana yang bisa menguatkan aktivitas dakwah harus terus menerus dicari dan diusahakan, agar bisa digunakan pada saat yang tepat dan pada saat diperlukan. Sarana tersebut bisa berupa kekuasaan, kelembagaan, kekeluargaan, hubungan persahabatan, payung hukum positif, dan lain sebagainya.

Ungkapan Nabi Luth sangat jelas menggambarkan kebutuhan akan sarana penguat dakwah ini. “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu”. Tentu saja sarana-sarana yang dimaksud haruslah yang sesuai dengan prinsip syari’ah, dan tidak boleh menggunakan sarana yang bertentangan dengan syari’ah.

4. Pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan

Mengingat ikatan kekeluargaan bisa digunakan sebagai saran untuk mendukung dan menguatkan dakwah, maka para aktivis harus selalu berusaha untuk menjaga hubungan kekeluargaan. Para aktivis harus berusaha untuk hadir dan membersamai kegiatan trah atau keluarga besarnya, agar mereka merasakan kedekatan emosional dan menjadi satu bagian yang kuat dengan seluruh anggota keluarga besar. Bukan menjadi pihak yang terasing dan terkucil karena tidak pernah terlibat dalam kebersamaan dengan trah.

Dalam sebuah ikatan keluarga besar (trah), maka akan sangat aneh jika seorang aktivis tidak pernah muncul dalam pertemuan dan keperluan trah tersebut, namun meminta dukungan dari trah. Mereka akan dengan mudah mengatakan, bahwa sang aktivis hanya memanfaatkan trah untuk kepentingan pribadi. Hal ini terjadi disebabkan keluarga besar tersebut tidak merasakan adanya kedekatan emosional dengan sang aktivis dikarenakan ia tidak pernah kelihatan dalam pertemuan dan kegiatan trah.

Wallahu a’lam bish shawab.


*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2699



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Selasa, 04 September 2012

Hujjah Aktivis Dakwah | Kolom Cahyadi Takariawan







Oleh Cahyadi Takariawan



Fiqih Dakwah dalam Al Qur’an

Dalam organisasi dakwah, salah satu karakter yang selalu dibangun dan ditumbuhkan adalah kebersamaan dalam ‘amal jama’i. Ada qiyadah dakwah yang memberikan arahan, instruksi, mengkoordinasikan serta mengkonsolidasikan amal jama’i agar bisa berjalan lurus dan efektif. Ada aktivis dakwah yang bekerja di bidang tugas masing-masing sesuai arahan dan pembagian tugas dari qiyadah serta penataan organisasi.

Kendati ada instruksi qiyadah dan ketaatan aktivis dakwah, namun Al Qur’an mengarahkan pentingnya kejelasan dalam segala sesuatu. Penting bagi organisasi dakwah untuk membudayakan sikap kritis dan membiasakan munculnya hujjah atau argumen di kalangan aktivis, agar dalam melaksanakan tugas selalu berdasarkan ilmu pengetahuan dan kejelasan. Bukan melaksanakan tugas dakwah semata-mata karena ketaatan yang tidak dilandasi oleh ilmu, pemahaman dan kejelasan.

Allah Ta’ala telah berfirman tentang kisah Nabiyullah Ibrahim as yang bersifat kritis dan berani menampilkan hujjah untuk mendapatkan kejelasan.

“Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud : 74 – 76).

Beberapa pelajaran Fiqih Dakwah yang bisa diambil dari rangkaian ayat tersebut adalah :

1. Pentingnya hujjah bagi aktivis dakwah

Dakwah bukanlah indoktrinasi, namun penyadaran, demikianlah salah satu kaidah dalam dakwah. Oleh karena bukan proses indoktrinasi, maka para aktivis dakwah harus menjadi cerdas dan memiliki hujjah (argumen, pandangan) yang kuat untuk bekal dalam melaksanakan dakwah di tengah kehidupan masyarakat. Dakwah akan lebih mudah diterima dan dicerna, apabila disertai dengan argumen yang kuat.

Penting bagi Nabi Ibrahim As untuk mendapatkan kejelasan tentang kaum Luth, maka iapun berdialog dengan para malaikat Allah. Ibrahim tidak ingin memiliki ketaatan yang buta, namun memberikan keteladanan kepada kita agar selalu memiliki ketaatan yang dilandasi oleh pemahaman, pengetahuan dan kejelasan. Nabi Ibrahim harus memiliki keyakinan dalam dirinya, sehingga ia akan mampu memberikan hujjah yang tepat. Untuk itulah ia bertanya dan menyatakan pandangan kepada malaikat Allah mengenai kaum Luth.

2. Keberanian menyatakan pandangan

Para aktivis dakwah juga harus memiliki keberanian untuk menyatakan pandangan agar mendapatkan kejelasan dalam melaksanakan tugas dakwah. Walaupun berhadapan dengan perintah Allah, namun tidak menghalangi Nabi Ibrahim As untuk bertanya dan menyatakan pandangan dalam rangka mendapatkan kejelasan. Nabi Ibrahim memberikan contoh keberanian dalam menyatakan pandangan, bukan untuk menolak ketetatpan Allah, namun untuk mendapatkan kejelasan.

Aktivis dakwah tidak layak menyimpan ketakutan atau keengganan menyatakan pandangan yang konstruktif bagi gerakan dakwah. Tentu saja harus disertai dengan etika, dan mengerti mekanisme serta saluran komunikasi struktural dalam organisasi dakwah. Apabila ketaatan dibangun diatas landasan pemahaman, maka dakwah akan kokoh dan gerakan dakwah akan solid. Sebagaimana rangkaian arkanul bai’ah yang disusun oleh Hasan Al Banna, yang menempatkan kepahaman pada rukun pertama, ketaatan pada rukun keenam, serta tsiqah pada rukun kesepuluh.

Kita juga bisa merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim yang meminta kepada Allah untuk menunjukkan kepadanya bagaimana Allah menghidupkan makhluk yang telah mati, sebagaimana diabadikan dalam surat Al Baqarah ayat 260. Kisah-kisah semacam ini semakin menguatkan pemahaman, bahwa Al Qur’an mengarahkan kita untuk berani menyatakan argumen untuk mendapatkan kejelasan.

3. Qiyadah harus berjiwa besar untuk menerima pandangan

Dalam organisasi dakwah, para qiyadah harus menyediakan kelapangan jiwa untuk menerima pandangan, pendapat, argumen dari para aktivis. Para qiyadah harus memberikan ruangan yang memadai dan proporsional bagi munculnya pertanyaan dan pandangan dari para aktivis. Sikap ini justru akan semakin memberikan penguatan posisi dan menambah penghormatan kepada para qiyadah, karena berbagai pandangan para aktivis bisa tersalurkan.

Allah Ta’ala tidak menyalahkan atau mencela Nabi Ibrahim As atas pertanyaan dan pandangan yang disampaikan, bahkan dalam ayat tersebut Allah memberikan pujian terhadap beliau As, “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah”. Oleh karena itu, para qiyadah dituntut untuk memiliki jiwa besar dalam berinteraksi dengan para aktivis dakwah dan masyarakat pada umumnya, untuk menerima pandangan dengan tulus.

4. Taat kepada ketentuan Allah

Ketika pandangan sudah disampaikan, bukan berarti keputusan akhir harus selalu sesuai dengan pandangan tersebut. Karena dalam organisasi dakwah, ada sangat banyak aktivis yang masing-masing membawa argumen. Tidak mungkin semua pandangan tersebut akan diambil sebagai keputusan akhir. Setelah berbagai pandangan dikumpulkan, maka apapun keputusan akhirnya harus ditaati dan dilaksanakan bersama.

Allah Ta’ala menegaskan kepada Nabi Ibrahim agar menghentikan dialog itu, karena Allah telah memberikan waktu yang cukup bagi kaum Luth namun mereka tidak mau kembali kepada kebenaran. Maka adzab Allah akan ditimpakan kepada kaum Luth sebagai balasan atas kezaliman dan keingkaran mereka. “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”.

Pada akhirnya Ibrahim tunduk dan taat secara mutlak kepada ketentuan Allah dengan penuh kerelaan. Demikian pula para aktivis dakwah harus tunduk kepada ketentuan Allah. Dalam beramal jama’i, para aktivis harus tunduk kepada keputusan jama’ah, walaupun keputusan jama’ah itu tidak sesuai dengan pendapat dan pandangan pribadinya. Karena tidak mungkin seluruh pendapat dan pandangan dari para aktivis akan dijadikan sebagai keputusan akhir, pasti ada pendapat dan pandangan yang tidak terakomodir.

Jika pandangannya tidak terakomodasi dalam keputusan organisasi, tidak layak para aktivis menolak untuk mengikuti hasil keputusan dengan alasan, “itu bukan pendapat saya”, atau “saya sudah memberi pendapat tetapi tidak digunakan”, atau “sia-sia saja saya memberi pendapat, ternyata tidak digunakan untuk mengambil keputusan”.

Wallahu a’lam bish shawab.





___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Kamis, 30 Agustus 2012

Syawalan ke Rumah ustadz Hilmi Aminuddin di Lembang

Oleh Cahyadi Takariawan*

Ustadz yang satu ini selalu tampak tegar dan optimistis. Sejarah dakwah yang dilaluinya sungguh sangat berliku. Berbagai benturan ideologis pernah dialaminya di zaman rezim Soeharto, namun dengan ketekunan, keuletan, kesabaran dan dedikasi yang tinggi, beliau berhasil memimpin gerakan dakwah memasuki wilayah kelembagaan negara.

Wajahnya tampak semakin tua, rambutpun semakin banyak yang putih. Namun semangat selalu tampak dari setiap pembicaraan yang tak pernah lelah. Pembicaraan beliau selalu menunjukkan ketegaran dan optimisme yang luar biasa. Sebuah jiwa yang sarat akan semangat dan kesungguhan dalam perjuangan.

Pagi itu, Kamis 30 Agustus 2012, kami berkesempatan mengobrol dengan beliau, di tengah rangkaian “open house” Syawal yang beliau gelar di tempat kediaman di Lembang selama tiga pekan. Suatu open house yang sangat panjang, dan menunjukkan jiwa keterbukaan beliau kepada siapapun.

Sebagaimana diketahui, banyak media menulis pribadi beliau dengan sinis, namun beliau tidak pernah menanggapi dengan kata-kata. Beliau menjawab semua pertanyaan dan tuduhan dengan amal dan kerja nyata. Open house tiga pekan di rumah beliau ini menjadi salah satu bukti, bahwa beliau adalah sosok pribadi yang sangat terbuka, “open mind”, dan mempersilakan siapapun datang serta berdialog dengan beliau.

Duduk sendirian di ruang kantin, tanpa pengawal atau protokoler, beliau menerima para tamu yang datang silih berganti dengan santai dan penuh canda. Para tamu dengan leluasa langsung datang menghampiri beliau, duduk dan mengobrol santai dengan beliau, bahkan meminta foto bersama beliau. Termasuk saya dan isteri, yang tanpa malu-malu minta kepada beliau untuk foto bersama, sebelum kami berpamitan meninggalkan Padepokan Madani Lembang.

Mendengar permintaan saya untuk foto bersama, beliau spontan berdiri dan mencari tempat untuk berfoto. Subhanallah, benar-benar sosok pemimpin yang sangat merakyat, dan bersedia memenuhi permintaan spontan para tamu yang hadir untuk silaturahim Syawal di rumah beliau. Sangat jauh dari kesan elit atau eksklusif. Beliau benar-benar menjiwai makna memimpin, dengan kedekatan kepada seluruh kalangan masyarakat.

Para tamu yang hadir tampak terdiri dari berbagai macam kalangan. Sangat beragam. Semenjak saya tiba di rumah beliau sekitar jam 10.00 wib hingga meninggalkan rumah beliau jam 13.00 wib, para tamu datang pergi silih berganti. Ditilik dari penampilan para tamu, kelihatan bahwa yang datang sangat beragam. Dari rakyat biasa, tetangga dekat, tetangga jauh, para aktivis dakwah, aktivis parpol, sampai para pejabat. Ada yang datang perorangan, ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang bersama komunitas lembaga atau instansi masing-masing.

Beliau dengan ramah menerima para tamu, bersalaman, berpelukan, menemani mengobrol, dan menemani makan siang yang beliau sediakan untuk para tetamu. Saya perhatikan, yang bersalaman dan mengobrol dengan beliau bukan hanya para aktivis atau pejabat, namun para sopir yang datang mengantarkan rombongan, ikut pula bergabung bersama majelis beliau. Ikut bersalaman, ikut mengobrol santai dengan beliau, dan ikut pula menikmati jamuan makan siang. Luar biasa.

Lega sekali bisa bertemu beliau, bahkan mengobrol lebih dari dua jam dengan beliau. Kendati para tamu datang silih berganti, beliau tidak “mengusir” kami yang tidak bosan mendengar obrolan ringan bersama beliau. Rasanya masih ingin berlama-lama duduk bercengkerama dan mengobrol bersama beliau, namun kami harus tahu diri. Masih sangat banyak tetamu yang harus beliau temui.

Satu rombongan besar aktivis dakwah dari wilayah Sumatera datang saat kami berpamitan dengan beliau. Rombongan ini jauh-jauh datang dari Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jambi, Bengkulu, Riau dan berbagai wilayah di Sumatera untuk bersilaturahim dengan ustadz Hilmi.

Setiap hari beliau menerima tetamu, sejak pagi hingga malam hari. Setiap hari beliau menemani megobrol para tetamu yang datang dan dilaturahim di rumah beliau. Namun stamina dan energi yang beliau sediakan serasa tidak ada habisnya. Semua tamu merasa senang dan nyaman bertemu beliau.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan beliau untuk selalu tegar dan istiqamah memimpin dakwah, membersamai umat menuju kejayaan dan kemenangannya. Aamiin.

*http://www.pksbanguntapan.com/2012/08/syawalan-ke-rumah-ustadz-hilmi.html



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Senin, 06 Agustus 2012

Spirit Ramadhan Memberikan Kita Kebahagiaan | Cahyadi Takariawan

Bahagia sering sekali dihubungkan dengan kesejahteraan dan materi. Padahal, bahagia itu terletak di dasar hati.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sudah sangat sering saya menyampaikan hal ini. Mudah sekali kita membuat urutan daftar kekayaan para konglomerat dunia, namun sulit bagi kita untuk membuat urutan daftar kebahagiaan. Kekayaan materi itu kuantitatif, sehingga mudah dibuat urutan, sedangkan kebahagiaan itu kualitatif. Berikut adalah beberapa nama konglomerat dunia yang berhasil diurutkan jumlah kekayaannya, di http://uniqpost.com.

Carlos Slim Helu tiga kali menempati posisi tertinggi di daftar 10 orang terkaya di dunia, berturut-turut dari tahun 2010. Kekayaan pebisnis telekomunikasi asal Meksiko ini mencapai US$ 69 miliar. Berikutnya, pemilik Microsoft, Bill Gates menempati urutan kedua dengan total kekayaan mencapai US$ 61 miliar. Urutan berikutnya adalah Waren Buffet, pemilik Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan konglomerasi yang memiliki banyak anak perusahaan. Nilai kekayaannya menembus angka US$ 44 miliar. Berikutnya adalah Amancio Ortega dengan kekayaan sebesar US$ 37,5 miliar, dari Zara.

Kita membayangkan, betapa mudahnya mereka membeli kebahagiaan. Namun, benarkan bahagia bisa dibeli dengan materi? Sebagiannya bisa, tapi bagian lainnya tidak bisa. Perhatikan apa yang bisa dibeli oleh orang-orang kaya, yang memiliki harta melimpah ruah, namun tidak memiliki spiritualitas atau ruhani yang mencukupi.

Orang-orang kaya itu bisa membeli ranjang berlapis emas murni, namun tidak bisa membeli tidur nyenyak. Mereka bisa membeli rumah mewah di tengah kemegahan dan hingar bingar Times Square New York, namun tidak bisa membeli ketenangan hati. Mereka bisa membeli obat-obatan mahal, namun tidak bisa membeli kesehatan. Mereka bisa membeli rumah sakit bertaraf internasional dengan dokter-dokter spesialis yang sangat lengkap, namun tidak bisa membeli kehidupan. Mereka bisa membeli seks, namun tidak bisa membeli cinta.

Lihat apa yang bisa dibeli oleh Christina Aguilera. Mudah baginya membeli rumah mewah di kawasan elit Beverly Hills, namun toh ia merasa tidak bahagia. Penyanyi Amerika Serikat itu menjual rumah mewah miliknya di Beverly Hills, dengan harga US$13,5 juta atau setara dengan Rp121,5 miliar. Dilansir dari lamanDaily Mail, rumah tersebut dibeli Aguilera sebesar US$11,5 juta atau setara dengan Rp103,5 miliar dari keluarga Osbourne pada 2008 lalu. Aguilera menjual rumah tersebut, setelah bercerai dari Jordan Bratman. Rumah Aguilera menerapkan berbagai desain interior, mulai dari gothic hingga kontemporer.

Rumah yang terdiri dari enam kamar tidur dan sembilan kamar mandi ini didominasi dengan warna pink dan merah. Rumah tersebut juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari gym, ruang permainan, ruang untuk menonton film, studio rekaman, hingga kolam renang. Ternyata Aguilera hanya bisa membeli rumah mewah di kawasan sangat bergengsi, namun tidak bisa membeli kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Lihat pula apa yang bisa dibeli oleh Oprah Winfrey. Ratu talk show ini memiliki sebuah hunian mewah senilai US$55 atau sekitar Rp 500 miliar di kawasan Santa Barbara, California. Rumah seluas 2.136 meter persegi dengan panorama gunung dan laut itu dilengkapi home theater, danau buatan, enam kamar tidur, 14 kamar mandi, dan 10 perapian. Namun, wanita yang dinobatkan sebagai wanita pesohor terkaya dengan kekayaan senilai US$ 2,4 miliar itu memutuskan tak menempatinya. Sehari-sehari, ia memilih tinggal di sebuah villa bergaya Italia seharga Rp 60 miliar.

Ramadhan dan Kebahagiaan

Spirit Ramadhan telah membangkitkan religiusitas kita. Pada bulan mulia ini kesadaran ruhani memuncak, dimana pelatihan pengendalian diri berjalan sangat efektif. Suasana spiritual kita semakin meningkat, dan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Inilah yang menjadi pondasi bagi hadirnya perasaan bahagia dalam jiwa, dalam dasar hati kita.

Penelitian yang dilakukan oleh tim University of Illinois bersama Gallup Organization yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology, Agustus 2011 membuktikan bahwa saat menghadapi konflik atau situasi sulit, orang yang religius lebih bisa bertahan dan tetap merasakan kebahagiaan dibanding kaum atheis.

Peneliti melakukan analisa data yang dikumpulkan dari tahun 2005 hingga 2009 terhadap orang di 150 negara yang berbicara tentang agama, kepuasan hidup, dan dukungan sosial. Peneliti menemukan bahwa agama memberi dukungan emosional ketika kebutuhan mendasar seperti makanan, pekerjaan, rasa aman, dan pendidikan tidak terpenuhi. Selain itu, orang yang religius cenderung merasa lebih terhormat dan lebih sedikit memiliki perasaan negatif dibanding mereka yang tidak religius.

Penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa orang religius lebih bisa merasakan kebahagiaan daripada mereka yang tidak religius. Senyampang masih Ramadhan, mari kita optimalkan untuk peningkatan ruhaniyah kita. Dengan itu kita akan memiliki modal dasar untuk selalu merasakan kebahagiaan.[]



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia