Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2012

"Ada ga ya, Aleg partai lain yang begini?"

by Ratih Kartiningsih

Yang kami tau, Ustadz S, anggota DPRD Kota Tangerang dari PKS beliau ‘punya’ dua mobil. Satu mobil pribadi dan satu mobil dinas. Beliau lebih sering menggunakan mobil pribadi untuk mobilisasi. Sedangkan mobil dinas beliau dedikasikan untuk dipinjam masyarakat, karena menurut beliau "itu mobil rakyat, biar dipake rakyat juga".

Beberapa hari yang lalu, Abu Fatih telpon sang Ustadz, minta izin pinjam mobil untuk menjemput putri kami di pesantren hari Rabu tanggal 8. Ustadz S mempersilahkan.

Maka, Rabu pagi, meluncurlah Abu Fatih ke rumah sang Ustadz untuk mengambil mobil. Sesampainya di rumah beliau, ternyata ga ada mobil. Mobil pribadi maupun mobil dinasnya ga ada. Kata Umi nya, "Ustadz ke kantor bawa mobil dinas. Pa Fadil ambil aja mobil dinas di kantor. Motor Pa Fadil taruh di sini, Pa Fadil ke kantor pake motor saya. Biar nanti Ustadz pulangnya pake motor".

Masalahnya....... kami tau bahwa putri beliau pun harus dijemput di pesantren, karena putri beliau satu kelas di pesantren dengan putri kami. Maka terlontar pertanyaan dari Abu fatih kepada Istri sang Ustadz "Lha, terus Hana (putri beliau) bagaimana?". Dengan santai istri sang Ustadz menjawab, "Hana nanti saya yang jemput pake motor."

Subhanalloh. Jadi, yang punya mobil njemput putrinya pake motor, karena mobilnya dipinjam oleh orang yang mau njemput putrinya juga, di pesantren yang sama???

“Itu kan mobil rakyat” benar-benar sudah melekat pada aleg dan keluarga aleg ini.

ALLOHU AKBAR!!


*sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290435904397186&set=a.137355103038601.29452.100002923374352&type=1&theater


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Senin, 17 Desember 2012

Kisah Mengharukan di TPS Mursi saat Referendum


15 Desember 2012..

[foto] Seorang Bapak tua sesunggukan menangis haru ketika mengetahui sosok antrean di belakangnya adalah Dr. Muhammad Mursi Presiden Mesir. Mereka sedang mengantri untuk memberikan suara dalam referendum Konstitusi Mesir (15/12). Mursi pun langsung mencium kening bapak tua tersebut, mengharukan...

Dan hasilnya, di TPS tersebut Morsi dan pendukung pro-Konstitusi menang telak 95,4 %. Sungguh ini bukti amat nyata betapa Rakyat cinta pemimpinnya, dan pemimpin yang cinta pada rakyatnya. Semoga Allah karuniakan kejayaan pada ummat ini. 


وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا يَحْذَرُونَ

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (QS Al-Qashash:5-6) 


___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Testimoni dan Profil Ahmad Syaikhu Wakil Walikota Bekasi Terpilih (2013-2018)

Berdasar quick count yang dilakukan berbagai lembaga, pasangan PAS (Pepen-Ahmad Syaikhu) meraih suara tertinggi (43%) dalam pilkada Kota Bekasi yang berlangsung 16 Desember 2012.

Ahmad Syaikhu saat ini sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Propinsi Jawa Barat. Alumni STAN angkatan '83 ini juga seorang hafidz. Sempat bekerja di BPKP sebagai auditor.

Untuk mengenal lebih lanjut dengan beliau, kami sampaikan profil dan beberapa testimoni dari yang pernah berinteraksi dengan beliau...

Jadi ustad ahmad saikhu yg menang jadi wakil walikota bekasi ya...alhamdulillah... Dia itu guru ngaji ku...lagam suara bacaan Al Qurannya bagus, kalau dia jadi Imam hatiku merinding mendengar bacaannya... (Achmad Bachtiar)

Dengar suara ust syaikhu, ingat ust sofyan nur. Nadanya persis banget. Beruntung warga bekasi, akan sering2 mendengar suara ust syaikhu. (muttaqin depok)

Alhamdulillah.... Walaupun hanya sbg wakil....Semoga beliau bisa memberikan tauladan yg baik dlm mngemban amanah serta istiqomah dlm prinsip serta mndapat ridho Allah. Aamiin. (Azhari Musa)

Alhamdulillah beliau diamanahkan mengawal pememimpin kota bekasi, beliau adalah murobi kami yg tegas, tawadhu', amanah dan tlh menjadi tauladan kami bertahun2 sbg mad'u beliau.. barokallohulakum ya ustadz! (Lukman Ali)

Yg salut dr ustadz syaikhu anaknya cerdas semua, sukses beliau memimpin dlm rumah tangga. (Andri Aja)

Mudah2an slalu diberi kesehatan & bimbingan dari alloh swt "dan istiqomah di jalan yang lurus utsd" amin.. (Ade Koswara Abdul Halim)

Sayang foto yang dijogja (waktu gempa jogja) ngga ada. beliau seminggu disana blanja makanan dan pralatan langsung untuk disalurkan. seminggu disana dia keliling dan menyalurkan bantuan ke bantul, sleman, prambanan, wedi, bayat, trucuk, gantiwarno, itu yang masih kuingat... (Mas Arief Klaten)

Terkenang beliau saat memberikan taujih di Dormitory Karyawan PT Asahi، Orchid Park Batam di sela2 tugas audit beliau di kota Batam th 2000... Barokallahu ... (Bambang Hermanto)

Subhanallah, ustad yg satu ini murah senyum bersahaja dan sederhana. klo beliau tausyiah atau berbicara lembut dan halus. pemimpin bekasi yg didambakan. smg bs memberikan banyak kebaikan jika beliau memimpin bekasi. (Agus Yogo Trapsilo)

Alhamdulillah, sahabat dan sekaligus ustads yang ana kenang sesama alumni STAN, masih ingat saat Beliau menjadi imam, suaranya bagus sekali dan masuk ke hati. Ya Allah, berilah keistiqomahan pada ustad kami ini, dan satukan kami dalam naungan rahmat-Mu di syurga nanti. (Rsq Power)

msh terngiang merdunya suara ustadz Ahmad Syaikhu sholawatan beragam versi. Request lg yg versi India tadz :) (‏@abuafiqah1)

Subhanallah..jd inget dlu wktu msh ngaji ma beliau...mdh2an Alloh SWT meridhoi langkah beliau utk jd imamun 'adil... (Addy Irwansyah)

Selamat bekerja. Susul Syaikh Mursi, ya Ustadz! (Bambang Subekti)


P R O F I L

Ahmad Syaikhu dilahirkan di desa Ciledugkulon Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon pada 23 Januari 1965, putra kelima dari pasangan , K.H Ma’soem bin Aboelkhair, dan Nafi’ah binti Thohir.

Pendidikan dasar sampai dengan kelas V dilaluinya di SDN Ciledug III. Seiring dengan kepindahan ayahnya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Sindanglaut Cirebon ia melanjutkan ke SDN Lemahabang II hingga lulus. Pendidikan menengah pertama dilaluinya di SMPN Sindanglaut Cirebon dilanjutkan ke SMAN Sindanglaut Cirebon setelah itu dilanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) . Pendidikan agama diperolehnya dari orang tua, kakak, guru privat dan kiyai-kiyai di Pondok Pesantren Buntet Cirebon.

Setelah menyelesaikan pendidikan di STAN, ia menikah dengan teman sekampusnya, Lilik Wakhidah. Dari pernikahan itu dikaruniai oleh Allah tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan.

  1. Muhammad Kamil (mahasiswa S2 Trisakti jurusan Ekonomi Islam)
  2. Muhammad Yasir Naufal (Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Jurusan Geofisika Fakultas Pertambangan dan Perminyakan).
  3. Sarah Karimah (Mahasiswa Universitas Indonesia fakultas Teknik Elektro).
  4. Muthiah (mahasiswa Syariah and Economic Banking Institute jurusan Perbankan Islam).
  5. Izzuddin Hamas (siswa Madrasah Aliyah Husnul Khotimah di Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan)
  6. Aisyah Wafa Syahidah (siswi kelas 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu Iqro Pondok Gede).

Ahmad Syaikhu menjalani ikatan dinas sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatera Selatan di Palembang dari 1986 hingga 1989 kemudian dilanjutkan pada BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah.

Pada Pemilu 2004, ia dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai anggota di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi. Masuknya ia ke dunia politik berkonsekuensi ia harus mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil. Kini ia menjabat sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Propinsi Jawa Barat.

Sejak sekolah dasar ia sudah aktif mengikuti kegiatan pramuka. Di SMP dan SMA, ia aktif mengikuti dan menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra sekolah (OSIS). Ketika kuliah di STAN, aktivitas organisasi itu salurkan melalui Senat Mahasiswa sebagai Ketua Bidang Kerohanian Islam dan Ketua Masjid Kampus Baitul Maal (MBM) Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK).

Bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan At-Tibyan (Jakarta Timur) yang bergerak dalam pendidikan Islam dengan membuka TPA, Yayasan Istiqomah Bina Umat (IBU) di Pondok Gede Bekasi yang bergerak dalam Tahfidzul Qur’an (menghafalkan Al-Qur’an) dan Yayasan Lembaga Amil Zakat Tabung Amanah Umat (LAZ-TAMU) di Pondokgede yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan kesehatan. Yayasan Adzkia di Bekasi Timur yang bergerak di bidang sosial dan ekonomi.

Dalam pandangannya, agar dakwah tetap berjalan, diperlukan adanya komitmen dari setiap aktivis dakwah terhadap Islam dan Gerakan Islam, di samping dukungan dari masyarakat.

Saat ini ia juga aktif sebagai Dewan Pengawas Yayasan Islamic Center IQRO’ Pondokgede yang merupakan pelopor sekolah Islam terpadu. Selain itu ia juga diamanahi menjadi Ketua Ta’mir Masjid Annur, Yayasan Miftahul Amal Bojong Rawalele Jatimakmur Pondokgede Bekasi.

Kesibukan kerja tidak menghalanginya secara rutin ikut dalam kegiatan olahraga bulutangkis sepekan dua kali dan menembak. Sekarang ia dipercaya untuk menjadi Ketua Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) Cabang Kota Bekasi. Kemampuan menembak diperolehnya saat mengikuti kegiatan pembekalan Konsepsi Nasional bagi pimpinan dan anggota DPRD se-Indonesia gelombang I di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional) bertempat di Sekolah Polisi Negara Lido Sukabumi, di mana ia ketika itu menempati peringkat pertama dalam menembak.

Ia menilai bahwa era reformasi merupakan momentum untuk memperbaiki berbagai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menerapkan good governance (tata kelola kepemerintahan yang baik). Kunci keberhasilan untuk mewujudkan itu semua adalah pengabdian, ketekunan dan kebersamaan.

Ustadz Ahmad Syaikhu saat menjadi relawan Gempa Ciamis Ramadhan lalu

NB: folllow ustadz Ahmad Syaikhu di twitternya >> @syaikhu_ahmad




___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Kamis, 13 September 2012

Cerita 'Kecil' Dibalik 70 Penghargaan Kang Aher


by roni sewiko*

Saya sudah menganggapnya seperti kakak. Orangnya Cheerful, wajahnya cerah dan menyenangkan bila mendengar obrolannya. Namun ternyata, manusia Sanguin seperti ini pun tak lama akan berwajah kusut karena mengimbangi pekerjaan atasannya.

Ya, ia adalah seorang ajudan dari Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat kini.

Bila sudah kusut begitu, memancing mood dengan mengobrol selalu masuk kategori solusi.

Ada satu cerita darinya yang selalu saya kenang hingga sekarang. Mengimajinasikan cerita satu itu mengajak saya untuk lebih sabar belajar tawadhu.

---

Pada April 2008, halaman tempat itu sudah disesaki wartawan. Ya, gedung DPRD Kabupaten Majalengka berdasar jadwal KPU Jabar mendapat jatah untuk jadi saksi Pesta Demokrasi.

Hari itu, 3 pasangan cagub dan cawagub mantap sudah menyiapkan diri di ruangan. Mereka akan memaparkan pandangan dan rencana ke depan untuk Jabar.

Disanalah kakak saya ini berada juga. Saat itu, ia masih berstatus sebagai ajudan dari Bupati Majalengka yang menjabat.

Yang dituturkannya kemudian kurang lebih adalah seperti ini:

Sesuai nomor urut, setiap pasangan akan maju dan berbicara di depan Rakyat Majalengka.
Saat pasangan nomor 1 maju, suasana ruangan mendadak riuh. Sang Incumbent yang kuat menempel berbalap dengan calon nomor 2 ini rupanya didukung massa yang banyak. Iapun menyampaikan visi misi dengan tetap diiringi sorak sorai massa-nya.

Beralih pada giliran berikutnya. Sang Nomor 2 yang merajai Polling ini tak kalah mendapat iring dukungan massa yang kuat. Ruangan ramai kembali. Mantan Menteri yang menggaet tokoh NU yang bermassa banyak di Jabar ini punya pengaruh kuat. Sekali lagi, serangkaian kalimat visi sera misi-misi membangun Jabar telah sampai ke telinga Publik.

Sebelum lanjut cerita, kakak satu ini menerawang sesaat sambil tersenyum.

Lalu pasangan terkahir pun naik.

Berbeda dengan sebelumnya, sama sekali tak ada keriuhan. Namun tepuk tangan dari sedikit pendukung dan tim suksesnya cukup melegakan. Setidaknya, ini menegaskan bahwa mereka tak kan sekedar jadi penggembira di Pesta Demokrasi rakyat Jabar ini. Masih ada sekelompok orang yang punya mimpi dan bersungguh-sungguh dengan mimpinya.

Saat keduanya naik, semua orang akan langsung mengenali. Namun bukan sosok sang Cagub, tapi justru sang cawagub. Ya, siapa pula tak mengenal aktor laga berwajah tampan ini? Tapi yang satunya? si Cagub? siapa dia? orang-orang baru tahu, baru melihat bahkan.

Orang yang menceritakan ini pada saya, selalu mengulang-ulang bagian berikut ini dengan lebih dramatis.

"Kalau yang lain membacakan visi misinya di selembar kertas tebal khusus dan ber-map khusus pula, tapi yang ini tidak."

"Percaya atau nggak, pak Heryawan cuma membawa secarik kertas kecil.Tak ada map, apalagi kertas tebal!"

---

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, namun itulah realitasnya. Pandangan dan Misi-misi dari secarik kertas kecilnya itu telah mengantarnya meraih hingga genap 70 penghargaan pada 11 September 2012.

Visi, maupun misi, adalah buah pikir dan mimpi-mimpi panjang seorang pejuang. Bukan hiasan pena kolektif dari tim protokol.

Begitulah cerita dari orang yang kini jadi ajudannya itu. Kisah yang tak mungkin dusta sebab disampaikan dari mulut orang yang melihatnya terus semenjak pemilihan hingga kini.

Oia, ada satu lagi. Menulis di secarik kertas itu ternyata bukan rekaan dan celah pencitraan. Hingga kini, jika suatu saat pembaca berkesempatan mengikuti acara yang didatanginya, perhatikan saat-saat sebelum ia naik mimbar untuk memberi sambutan.

Ia, selalu menulis ulang apa yang akan ia sampaikan. Lembar sambutan yang rapi tersusun dari protokoler biasanya tak banyak ia baca. Namun begitulah seharusnya. Sebab, buah pikir dari hati, akan sampai tak hanya di telinga, namun juga ke hati.

Allahua'lam bish shawab


*http://mataronis.blogspot.com/2012/09/realitas-dibalik-secarik-kertas.html



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Rabu, 12 September 2012

Cerita Keluarga Pak Cahyadi dengan Tetangganya | Kisah Inspiratif

"Berpagi-pagi menjemput rizki"
Oleh Bu Ida Nur Laila
(Istri ustadz Cahyadi Takariawan)

Setiap pagi, selesai adzan shubuh, suara berderak sapu lidi menyentuh tanah, adalah musik harianku. Bukan aku yang melakukannya, tetapi Sumi, tetangga depan rumahku. Wanita sederhana usia 42 tahun itu selalu menyapu halaman rumahku, setiap pagi, hampir selalu. Mungkin dalam setahun ia hanya cuti melakukan aktivitas itu 3 atau 4 kali.

Aku pernah bertanya padanya:

"Bagaimana mungkin kamu sudah memegang sapu, sedangkan jamaah sholat dimasjid belum pulang ?"

Saat itu aku pulang dari shubuhan di masjid, dan ia telah menyelesaikan sebagian besar halaman rumahku dengan sapu lidinya.

"Saya bangun sebelum shubuh, menjerang air, lalu berwudhu. Begitu adzan, saya langsung shubuhan lalu ambil sapu..."

Waah...

Kucontohkan pada anak-anakku, kisah itu. Bahwa semestinya setiap orang berpagi-pagi menjemput rizki seperti mbak Sumi.

"Tapi kenapa mbak Sumi hidupnya begitu-begitu saja..." tanya anakku.

Aku faham apa yang dia maksudkan dengan begitu-begitu saja...Anakku belum bisa melihat kehidupan secara utuh. Barangkali juga banyak orang lain melihatnya demikian. Biar lebih jelas kuceritakan saja.

Sumi adalah janda cerai dengan satu anak. Ia hidup bersama ibunya yang sudah renta. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun dari hasil bantuan untuk korban gempa, persis di tanah kas milik Desa, di depan rumahku. Anak semata wayangnya barusan lulus STM dan telah diterima bekerja di sebuah pabrik pertambangan di Kaltim.

Sehari-hari Sumi bekerja di sebuah pabrik mebel, pemasok eksport ke beberapa negara. Aku mengenalnya 6 tahun yang lalu, sejak kami pindah rumah ke kampung ini. Awalnya aku melihat Sumi biasa saja, sebagaimana banyak perempuan desa yang telah tinggal di kampung ini sebelum kami datang.

Perawakannya kurus, tingginya sedang, kulitnya kecoklatan karena setiap hari mengayuh sepeda berangkat dan pulang ke pabriknya yang berjarak sekitar 5 km dari tempat tinggalnya. Namun tidak disangka, perawakannya yang kurus menyimpan tenaga yang sangat besar. Ia biasa mengangkat mebel2 berat untuk dimuat di kontainer.

Sumi cukup pendiam, bicara seperlunya saja. Ia tidak pintar berbasa-basi atau beramah tamah. seolah ia terlahir hanya untuk bekerja. Pada awalnya, aku mengira ia tidak ramah. Namun setelah beberapa waktu, aku menghargai kedisiplinannya.

Setiap pagi, tepat jam 07.00 ia pasti sudah mengayuh sepeda menuju pabriknya. Nanti sekitar jam 16.00, ia akan kembali tiba di rumah. Kadang jika lembur ia pulang sekitar jam 18.30.

Pada jadwal normal, ia bersegera membereskan pekerjaan rumahnya, meladeni orang tuanya dan membersihkan dirinya. Lalu saat adzan maghrib berakhir, ia sudah sampai di rumahklu, bersiap menyeterika baju.

Aku pernah bertanya padanya ;

" Adzan magrib baru selesai, kok kamu sudah sampai sini ? Apa kamu sudah sholat maghrib ?"

"Saya mandi dan berwudhu sebelum maghrib, lalu begitu adzan, saya langsung sholat maghrib tanpa menunggu usai adzan, setelah itu langsung ke sini..."

Waah...

Lantas ia menyeterika cucian orang serumahku yang menggunung. Kadang usai jam 21.00. Jika sangat banyak, kadang usai jam 22.00. Hasil seterikaannya rapi.

"Jam berapa kamu istirahat?"

" Nanti sepulang dari sini, nyuci baju sebentar trus istirahat..."

......

Melihat kegigihannya menghidupi dirinya, ibunya dan anaknya, itulah aku bersimpati. Pada suatu hari, empat tahun yang lalu, ia tengah menyapu halaman dan aku menghampirinya.

"Anakmu sudah lulus SMP, mau melanjutkan dimana...?"

"Tidak melanjutkan bu, saya tidak kuat membiayai sekolah SMU. Uang masuknya tidak sedikit...."

"Anakmu harus sekolah, jaman sekarang kalau hanya lulusan SMP mau jadi apa. Kamu suruh daftar dia ke STM, biar nanti bisa langsung kerja. Biar aku carikan biaya". Sejak itu aku punya anak asuh, anaknya Sumi.

Begitulah, anaknya ternyata cukup berprestasi sehingga, begitu lulus, ia lolos seleksi langsung disalurkan mengikuti pelatihan di Jakarta selama 3 bulan, lalu bekerja di pabrik pertambangan. Dan beberapa bulan setelah dikirim ke Samarinda, untuk pertama kalinya ia pulang dari Kaltim dengan naik pesawat...

.......

Sampai disini, apakah anda bisa memahami ceritaku yang centang perenang ini.
Sesungguhnya rizki itu, tidak selalu berbentuk materi, yang orang lain melihatnya dengan standar tertentu.

Sumi perempuan lugu, single parents. Ia hanya menapaki hari-harinya, tanpa banyak keinginan dan tuntutan. Sejak dulu sepeda kayuhnya tidak pernah ganti. Sejak dulu rumahnya tidak pernah direnovasi, dan nyaris aku tidak pernah melihat dia piknik kemanapun.

Namun ia mensyukuri banyak hal.

Ia selalu sehat dan kuat melakoni kewajibannya, nyaris jarang sakit. Itu adalah rizki yang tak ternilai oleh harta.

Ia bisa menyekolahkan anak hingga mendapat pekerjaan yang sesuai. Anaknya bisa sekolah sampai lulus. Itu adalah bagian dari rizkinya. Bahkan saat usai gempa yang merobohkan rumahnya, ia mendapat bantuan uang dari perusahaannya yang lebih besar dari yang diterima teman-temannya. Uang itu, sekitar 4,5 juta, mungkin baginya cukup besar nilainya, ia serahkan pada kami, aku dan suamiku :

"Bapak, ini uang dari perusahaan, tolong dipakai untuk membangun kembali rumah saya"

Dan suamiku mengiyakan saja, hingga dengan berbagai cara jadilah sebuah rumah tembok kecil ukuran 5 x 6 meter.

Saat orang tuanya juga mendapat dana Pokmas untuk korban gempa, ia membangun 1 rumah lagi, bahkan kini mereka punya dua rumah kecil yang berdampingan.

Bukankah itu rizkinya...?

Mungkin orang melihat, tak ada yang berubah dari kehidupan hariannya. Seperti pagi ini, ia masih saja menyapu menembus dingin. Dan tak lama lagi ia akan mengayuh sepeda, menuju pabriknya. Dan nanti sore ia telah hadir menyeterika.

Namun aku tahu, ia menikmati semua itu. Dalam hatinya ada kebanggaan mengingat anak semata wayangnya, yang telah bisa mencari penghidupan, walau jauh di seberang, sementara anak lain seusianya, masih merengek kepada orang tuanya.

Kebahagiaan itu adalah bagian dari rizkinya.


dan dalam gambar, itu adalah hadiah ayam, kemenangan bu Sumi dalam mengikuti lomba menganyam ketupat, pada hari ahad yang lalu (di acara Syawalan 1433 H PKS Banguntapan-ed).

Ayo berpagi-pagi menjemput rizki dan kebahagiaan.


*http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2393387130902&set=a.1012018517550.1769.1737650396&type=1



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

Kamis, 06 September 2012

Sang U m a r a

menyanyikan 'kehidupan' Bersama Buruh


by roni sewiko*

Sepanjang berkali-kali ke tempat ini, mungkin pengalaman malam kemarin akan jadi momen paling berkesan.

Tempat ini dulu rasanya sakral sekali. Hanya orang tertentu yang bisa masuk, para gegeden saja. Mereka berkunjung, berdiplomasi, atau sekedar pesta. Nuansa militeristik sangat kentara. Setiap perilaku tuan rumah rasanya ibarat instruksi.

Namun sejak ia datang, tempat ini sudah seperti balai umum. Setiap orang boleh masuk. Ekspatriat, Pejabat, Demonstran, Petani, Nelayan, Mahasiswa, Rakyat biasa, RT/RW, Kades, buruh dan masyarakat dari beragam elemen, status dan strata tak asing ada disini. Sebagian besar dari mereka pun selalu berkomentar serupa, "bungah, mimpi rasanya menginjakkan kaki di tempat ini."

Awal ia masuk ke tempat ini, yang berarti ia mulai menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, banyak orang meragukan. Setiap polling dan survey selalu menunjukkan antusiasme dan atensi rendah dari masyarakat padanya. Beragam komentar miring dari para tokoh parahyangan rajin beredar di media. Isinya sama. Mereka, tak merasakan dampak kepemimpinannya. Mereka, menuntut ia mundur.

Ironis, dan sangat miris.

Ia, yang tak dikenal. Kemudian mesti jadi pejabat publik, dan menghadapi badai kritik. Jika bukan orang yang menggantungkan diri pada Kasih Sayang Allah, sungguh akan gusar diri dipermainkan opini.

Namun ia bertahan. Bertahan dan terus Berkarya.Ia jawab semua dengan bukti, dengan Kerja. Dan ini yang unik. Justru saat segala upayanya perlahan menjawab kritik dan kekhawatiran itu, tak ada yang menyambungkabarkannya pada masyarakat. Segala kerja keras yang berbuah penghargaan nasional dan bahkan internasional itu, redup dari ekspos media massa.

Jika terbiasa datang ke tempat ini, dan berinteraksi dengan para staf akan terdengar keluh dan ekspresi nyaris sama. Mereka, pegawai kerumahtanggaan, penjaga, terlebih para pengawal merasa lelah bukan main. Mengapa demikian? rasanya tak perlu dijawab lugas disini. Cukup coba saja ikuti aktvitas orang satu ini seminggu penuh, dan selamat merasakan kelelahan luar biasa. Saya tak melebih-lebihkan. Jika para pengawalnya yang bergantian shift 3 harian saja bisa sangat kelelahan, apalagi kita yang tak terbiasa??

Ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan banyak orang di tempat ini, juga dari orang-orang yang mengenalnya, atau terbiasa berinteraksi dengannya. Darimana, darimana ia bisa mendapat energi untuk memenuhi semua aktivitas itu?

Banyak yang berkomentar. Obat, suplemen, kurma, madu, dan jawaban tebak-tebak lainnya. Tapi sebagai muslim, saya rasa kita tahu jawabnya. Bahwa orang yang tengah bermujahadah di jalan Allah, yang memiliki Visi Besar, pasti akan selalu memiliki spirit besar untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Ya, kedekatan pada Allah itulah sumber energi utama orang-orang yang berjuang dengan benar. Bila bukan karenaNya, tak perlu diragukan bahwa niat yang salah, malas dan putus asa akan menggerogoti amanah kepemimpinan nantinya.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah masa pembuktian seorang Muslim. Bukti atas tekad kuat, bukti kualitas keimanan. Menyesal karena malam ke-21 saya tak i'tikaf, Jum'at 10 Agustus 2012 saya putuskan untuk bermalam di Mesjid. Kebetulan, kala itu saya memang tengah berada disana, di tempat orang itu berdinas.

Selepas 2 rakaat shalat dan beberapa lembar tilawah, ternyata badan sudah tak bisa diajak kompromi. Sekitar pukul 10 lewat, terdengar suara sirine dan rangkaian mobil memasuki rumah dinas ini. "Sang istri baru pulang", tebak saya. Lalu pukul 11 lewat, kembali terdengar gaduh yang sama. "Nah kali ini,sang suami yang pulang", terka saya lagi. Lelah, saya pun rebah. Tak ada siapapun disini, cuma saya sendiri.

Alangkah kaget, sekitar pukul 00.30 dua sosok itu memasuki mesjid. Saya yang tengah terkantuk-kantuk meronjat dan membalas sapaan mereka seadanya. Karena gugup dan malu, kantuk pun rasanya terusir dan saya kembali meneruskan tilawah.

Lelaki itu lalu melaksanakan shalat, sekitar 3 meter saja disamping kiri saya, dan sang istri melakukan hal sama di belakang. Selepas shalat, Ia membaca beberapa lembar Al Qur'an, dengan suara yang telah parau. Tak lama, tilawah parau itu pun telah jelas jadi dengkuran.

Dalam hati, saya tersenyum. Menganggap wajar suara dengkuran itu. Dengkuran orang lelah yang siangnya telah melakukan sidang terbatas bersama Presiden RI di Jakarta dan sorenya silaturahim dengan warga Purwakarta. Malamnya ia tarawih keliling di sebuah mesjid di kawasan bandung.

Selepas dirasa cukup porsi tilawah malam ini, saya kembali beranjak shalat. 2 rakaat panjang kembali. Merapal 3 halaman pertama surat kedelapan, surat Al Anfal, surat yang apik diisi pesan-pesan perjuangan.

Ketika salam, baru saya melihat mereka berdua di belakang.

Sang istri tersandar pada lemari penyimpanan mukena, lelap berbekal selimut. Dan sang suami, bersandar pada sang istri. Lelap dengan dengkuran yang terdengar lebih damai. Pemandangan yang sangat indahn damai dan mendamaikan.

Kiranya setiap pemimpin seperti itu. Diujung lelah atas aktivitas yang padat, mereka berserah pada Allah. Mereka pertemukan iman mereka dengan jaminan dan Janji-jani Allah atas berjuta karuniaNya di sepuluh malam terakhir.

Saat kemudian shubuh datang, lelaki itu sudah siaga di Mesjid. Saya jadi orang ketiga yang memasuki mesjid setelah ia dan muadzin. Selepas iqamah, mantap ia melangkah ke mimbar imam. Mengecek anak, keenamnya ada. Begitu pun sang istri.

Mantap ia bertakbir, memimpin Shalat semantap ia memimpin Jawa Barat.

Terima kasih atas inspirasinya, Pak Gubernur Ahmad Heryawan, dan Ibu Netty Prasetyani.


*repost dari: http://mataronis.blogspot.com/2012/08/sang-umara.html



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia